PESANTREN ANGKER
Bab 07. Sarapan Terakhir
Sendok di tangan Zahra berhenti di tengah jalan. Paham akan pengusiran halus ayah tirinya. Khadijah pun hanya menunduk semakin dalam, tidak berani membantah.
Zahra menatap piringnya. Nasi putih, sayur sop, sedikit tempe. Semua tiba-tiba terasa hambar.
"Zahra," Kyai Syamsul akhirnya menatapnya. "Sudah ada rencana mau tinggal dimana?"
Zahra meneguk ludah. "Belum pasti, Pak. Tapi Zahra akan coba cari kontrakan."
"Bagus." Kyai Syamsul mengangguk pelan. "Bapak harap kamu bisa belajar mandiri. Membiayai diri hidup sendiri. Jangan lagi merepotkan kan. Tapi ingat… kamu juga harus tetap menjaga nama baik keluarga ini."
Kalimat itu diucapkan dengan lembut, tapi terasa seperti pisau halus yang mengiris pelan-pelan.
Nyai Siti menambahkan dengan nada halus tapi menusuk. "Mas tidak perlu khawatir. Zahra pasti sudah terbiasa mandiri. Dia sudah pernah jadi istri orang. Insya Allah bisa jaga diri sendiri saat tinggal di luar nanti."
Kata-kata itu diucapkan dengan senyum tipis, tapi maksudnya jelas: sindiran halus tentang status Zahra sebagai janda cerai.
Salman, yang sejak tadi diam, tiba-tiba bertanya dengan nada sopan tapi penuh selidik, "Mbak Zahra memangnya mau tinggal di mana? Balik ke Malang atau tempat lain?"
"Belum tahu pasti,” jawab Zahra pelan.
Zaki menimpali dengan nada yang terdengar peduli tapi ada nada meremehkan di dalamnya, "Waduh, kalau nggak ada tujuan jelas, nanti malah bingung sendiri. Apalagi sekarang kan posisi mbak Zahra agak sensitif."
"Sensitif gimana maksudnya?" tanya Hasan polos—atau pura-pura polos.
"Ya itu…" Zaki melirik sekilas ke Zahra, lalu tersenyum tipis. "Status mbak Zahra kan beda dari dulu, tanpa suami. Jadi rawan kalau harus kemana-mana tanpa mahram."
Hasan mengangguk paham. "Oh iya, bener juga sih."
Zahra mengepalkan tangannya di bawah meja. Mereka tidak berteriak. Tidak memaki. Tapi setiap kata terasa seperti cambuk halus yang tak terlihat tapi menyakitkan.
"Sudahlah. Dimanapun Zahra tinggal, yang penting tetap jaga diri. Jaga nama baik.” Umar akhirnya angkat bicara dengan nada tenang. Dia menatap Zahra dengan lembut. “Meskipun kamu dalam ujian berat, tapi kalau tetap berpegang pada Al-Quran, insya Allah ada jalan. Oh, ya, Mas ada kenalan pimpinan pondok yang sedang membutuhkan pengajar. Kalau kamu mau mas bisa bantu masukan kamu ke sana."
Salman mengangkat alisnya. "Mas mau mbak Zahra mengajar? Tidak salah? Mas… mbak Zahra itu hitung penjumlahan saja masih banyak salah. Hafalan tidak tahfidz juga tidak khatam. Kita yang akan malu kalau mbak Zahra ngajar di tempat orang.”
Zahra tidak menimpali. Meksi tersinggung, tapi yang dikatakan Salman benar. Diantara kesepuluh anak Kyai Syamsul, Zahra paling bodoh. Dia baru bisa menulis saat kelas empat SD. Baru bisa berhitung saat kelas 6 SD. Dan Zahra tidak khatam menghafal Al-Quran meski ayahnya sudah memasukkannya di pesantren tahfidz dari kecil.
Nyai Siti menambahkan sambil menyuapi anak bungsunya, nadanya manis tapi kembali mengandung racun.
"Zahra memang cocoknya jadi ibu rumah tangga. Bukan jadi pengajar. Tapi sayang, dia bahkan tidak bisa punya anak. Jadinya mungkin tidak akan ada yang mau meminang lagi."
Nyai Siti berhenti sejenak, menatap Zahra dengan senyum tipis yang penuh kemenangan. Lalu melanjutkan dengan suara yang lebih pelan—tapi cukup keras untuk didengar semua orang di meja.
"Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Ibumu juga tidak berguna. Anaknya ya sama saja, tidak bisa melayani suami dengan baik."
Hening.
Khadijah yang sejak tadi diam, tiba-tiba mengangkat wajahnya. Matanya berkaca-kaca. Tangannya gemetar di atas piring.
"Siti… tolong jangan bicara seperti itu tentang Zahra,” suara Khadijah bergetar menahan tangis.
"Saya cuma bilang fakta, Mbak." Nyai Siti tetap tersenyum, seolah tidak ada yang salah dengan perkataannya. "Makanya kalau mendidik anak harus bener. Jangan lemah. Anak jadi tidak bisa apa-apa."
Zahra menunduk dalam-dalam. Air matanya menetes jatuh ke atas nasi yang belum disentuh. Dadanya sesak. Tangannya mengepal di bawah meja sampai buku-buku jarinya memutih.
Dia ingin berteriak. Ingin membela ibunya. Tapi tenggorokannya tercekat. Tidak ada kata yang bisa keluar.
"Ibu doakan semoga kamu bisa bertahan hidup sendiri," Nyai Siti melanjutkan dengan nada yang seolah peduli. "Banyak juga para janda yang mandiri, kok."
"Terima kasih, Bu," jawab Zahra pelan, suaranya hampir tidak terdengar. Air mata terus mengalir, tapi dia tidak menghapusnya. Membiarkannya jatuh.
“Cukup.”
Kyai Syamsul meletakkan sendoknya pelan, lalu menatap Zahra dengan tatapan yang sulit dibaca.
"Zahra… akan lebih baik kalau kamu segera menghabiskan sarapan. Bapak tidak mau mendengar keributan seperti ini, jadi segera pergi untuk kebaikan bersama."
Zahra mengangguk. Dia menjawab lirih, "Baik, Pak.”
Khadijah hanya bisa menangis. Tidak bisa berbuat apa-apa melihat putrinya jadi bulan-bulanan keluarga tirinya.
"Dan satu lagi," tambah Kyai Syamsul dengan nada menasihati. "Kalau nanti ada yang tanya identitas kamu, cukup bilang kamu pernah mondok di sini. Tidak perlu sebutkan hubungan keluarga terlalu detail. Lebih sederhana. Lebih baik."
Zahra paham. Jangan mengaku sebagai anak. Jangan bawa-bawa nama keluarga.
"Insya Allah, Pak," jawab Zahra lagi.
Sarapan selesai tanpa banyak kata lagi. Satu per satu meninggalkan meja begitupun dengan Zahra.
Begitu Zahra tiba di depan kamar, Umar yang sudah pergi lebih dulu ternyata menunggu di depan kamar Zahra.
“Mas tidak memiliki banyak tabungan untuk memberi mu bekal. Tapi, semoga ini cukup.”
Umar memberikan amplop putih pada Zahra.
"Yang sabar. Perbanyak shalawat dan istighfar, Zahra. Kalau hati sesak, dekat-dekat sama Al-Quran. Bacaan itu obat jiwa."
Zahra menatap amplop pemberian Umar dengan raut terkejut sekaligus terharu.
“Tidak perlu repot-repot, Mas. Zahra masih ada sedikit tabungan.”
“Terima,” pinta Umar sambil menyelipkan amplop yang dipegangnya ke tangan Zahra. “Hanya ini yang bisa mas berikan.”
Air mata Zahra menitik. "Terima kasih, Mas Umar."
Di antara semua saudara tirinya, Umar selalu yang paling tidak kasar. Tidak hangat, tapi juga tidak menginjak. Netral. Dan hari ini, bantuannya terasa seperti air di tengah padang kering.