Pesona Suamiku yang Tidak Pernah Memilihku

Bakar beraksi

Pagi itu, sinar matahari menembus kisi jendela ruang rawat. Cahaya lembutnya menimpa wajah Qalesya yang masih berbaring. Napasnya tenang.

Wafa duduk di samping ranjang, dia baru bangun. Ada lingkaran mata panda karena semalaman tidak tidur.

Namun kali ini, lelah itu bukan sebab sengaja begadang soal kerjaan tapi karena terlalu senang.

Suara ketukan pelan di pintu membuatnya menoleh.

Perawat masuk, diikuti dua sosok di belakangnya. Hasan dan Winda, mereka kompak tiba. Hasan memegang plastik berisi buah dan termos air jahe. Sementara Winda menenteng tas kecil berisi perlengkapan pribadi untuk Qale.

“Assalamu’alaikum,” sapa Hasan lirih, namun hangat.

Wafa segera berdiri, menghampiri, menyalami keduanya. “Wa’alaikum salam, Pak, Ma … terima kasih udah datang.”

Winda langsung menghampiri ranjang. Tangannya membelai rambut Qale pelan.

“Ya Allah, Nak ... kamu bikin Mama deg-degan. Kenapa nggak bilang kalau badan udah capek begini?” katanya dengan nada setengah marah, setengah sayang.

Qale terbangun, mengerjap pelan lalu tersenyum lemah. “Maaf, Maa. Aku pikir cuma kecapekan biasa. Ternyata malah jadi nyusahin semuanya,” katanya pelan.

Hasan duduk di kursi di ujung ranjang. Pandangannya jatuh pada wajah putri bungsunya itu, lalu beralih ke Wafa yang tampak masih diam. “Gimana kata dokter, Fa?”

Wafa menarik napas dalam-dalam.

“Sudah membaik, Pak," ujarnya singkat. "Tapi ... Aku mau bicara sebentar empat mata, boleh?”

Hasan mengangguk, lalu berdiri. Mereka berjalan keluar ruangan, meninggalkan Winda yang kini sibuk membantu perawat mengganti seprei Qale.

Di luar, lorong rumah sakit terasa tenang. Aroma antiseptik samar bercampur dengan suara langkah kaki perawat yang lalu-lalang.

Wafa berhenti di dekat jendela besar, menatap ke arah taman sebelum berbicara.

“Pak … saya mohon satu hal.”

Hasan menatapnya penuh perhatian. “Apa itu?”

“Berita tentang istriku ... tolong jangan dulu disampaikan ke Lea. Aku nggak mau dia tahu soal kehamilan ini sekarang. Takutnya malah jadi beban buat dia.”

Semalam, Wafa memutuskan untuk memberi tahu Hasan dan ibunya soal kehamilan Qalesya. Dia pikir keluarga inti harus tahu kabar bahagia ini.

Namun, dia juga cemas soal Lea dan Danisha. Wafa malas mencari tahu kabar mereka sehingga meminta Hasan datang untuk menjelaskan, sekalian menitipkan pesan tentang kondisi Qale.

Nada suara Wafa rendah tapi tegas, matanya jernih tapi bergetar menahan banyak rasa.

Hasan mengangguk paham. “Aku ngerti, Fa. Lea lagi dalam proses bangkit juga. Dia masih memupuk harapannya lagi dan Ayah rasa jangan diintervensi dulu,” balasnya mantap.

Dia lantas menepuk bahu Wafa lembut. “Kamu tenang aja. Ayah bakal hati-hati dan minta izinmu dulu kalau ingin membagi berita soal kehamilan Lesa dengan Lea.”

Wafa menunduk, tersenyum tipis. “Terima kasih, Pak. Aku cuma nggak mau ada yang bikin istriku stres.”

Hasan tersenyum kecil. “Kamu benar. Jaga dia, ya,” pesannya untuk sang menantu.

Wafa tertawa pelan. “Iya, Pak. Doain sehat dan lancar sampai lahiran nanti،” pintanya.

Mereka kembali masuk ke kamar. Winda sedang melipat selimut dan berbicara ringan dengan perawat. Hasan kembali duduk di kursinya.

Qale menatap ayahnya begitu mereka masuk.

“Yah ... kemarin udah sempat nengok Kak Lea, kan?” suaranya masih lirih tapi penuh rasa ingin tahu.

Hasan tersenyum tipis. “Sudah, Nak. Malah tiap minggu Ayah usahakan mampir ke sana, gantian sama Deni juga Danisha.”

“Deni gimana, Yah? Masih kecanduan?” tanya Qale pelan.

“Sudah mulai proses detox,” jawab Hasan, lalu menambahkan, “tapi sekarang mulai belajar melukis juga. Ayah bawain alat-alatnya dan bilang ke dia, jangan cuma main band, tapi bikin sesuatu yang bisa dibawa keluar nanti. Katanya dia mau bikin sketsa buat Lea,” beber Hasan antusias.

Qale terdiam, senyum kecil mengembang di bibirnya. “Alhamdulillah … berarti Kak Lea juga udah mulai semangat lagi ya?”

Hasan mengangguk. “Iya, waktu terakhir Ayah ke sana, Lea tampak beda. Lebih cerah, mau makan banyak, udah mulai senyum gegara rajin nulis surat buat Deni," kekehnya masih dengan rona bahagia.

Qale menatap kosong ke langit-langit, lalu menarik napas panjang. “Syukurlah …” ucapnya pelan. “Kalau gitu aku bisa tenang.”

Hasan memandangnya lembut.

“Tenanglah. Kamu fokus aja jaga diri, jaga calon cucuku. Lea dan yang lain biar Ayah yang pantau.”

Qale menunduk, tersenyum haru. Matanya berkaca. “Makasih, Yah. Kadang, aku nggak nyangka, semua bisa pelan-pelan balik seperti dulu.”

Wafa yang sedari tadi diam hanya memandang Qale dengan senyum hangat.

Tangannya meraih jemari Qale, menggenggam erat. “Kamu denger kan, Sayang … semua pelan-pelan membaik.”

Qale menatap Wafa. “Iya, Mas … kayaknya ini pertama kalinya aku bener-bener merasa lega dan tenang.”

Hasan dan Winda saling pandang, tersenyum lega melihat keduanya.

Siang hari di ruang itu terasa sempurna layaknya keluarga impian. Tanpa suara keras, tanpa air mata yang jatuh karena lelah, hanya napas yang berpadu antara syukur, cinta, dan kelegaan.

Hasan memejamkan mata sejenak, lalu membatin, 'Mungkin ini memang waktunya Tuhan menunjukkan arti sembuh yang sebenarnya.'

Sementara itu, di toko croissant, suasana sedikit berbeda.

Nadia mengetik pesan panjang untuk Qale, tapi centang dua tak kunjung berubah warna. Ia gelisah, bertanya pada Ria. “Ponselnya mati. Aku takut kalau hubungi Pak Wafa, nanti malah ganggu.”

Ria yang sibuk menata etalase hanya menjawab santai, “Kemarin Kak Qale udah siuman, cuma kecapekan aja. Jangan panik, Nad.”

Tak lama, pintu toko terbuka.

Bakar muncul dengan langkah berat, napasnya pelan. Ia langsung menjatuhkan tubuhnya ke sofa dan menyandarkan kepala. Tampak lelah sekali.

Ria menatapnya iba, lalu diam-diam membuatkan segelas kopi dingin, mengambil sepotong croissant original, dan satu piring kecil buah segar. Ia letakkan di meja.

“Jangan perhatian, nanti sayang,” gumam Bakar dengan mata masih terpejam.

“Ya biarin,” jawab Ria cepat, menahan senyum. “Sayang kan hak segala bangsa.”

Bakar membuka mata perlahan, senyum tipis terulas di wajahnya. “Terima kasih… saudara sesayang dan sebangsa.”

Keduanya tertawa kecil, mencairkan udara yang tadinya lelah dan tegang.

Satu jam kemudian. Sebelum pergi, Bakar menyelipkan secarik kertas di atas meja. Tulisan tangan itu rapi tapi ringkas:

“Riang gembira.”

Beberapa menit berikutnya, Nadia datang membereskan meja. Ia menemukan kertas itu dan menunjukkannya pada Ria.

“Riang gembira? Pak Bakar tadi duduk di sini kan?” tanya Nadia memastikan. "Dia ngode kamu, Ria?"

Ria mengernyit bingung. “Ngode apaan?”

Nadia menatapnya lurus sambil senyam-senyum. “Entah ya … tapi rasanya ini bukan cuma kata. Ini kayak … perasaan yang baru dimulai.”

Ria terdiam, matanya tanpa sadar menatap pintu yang baru saja ditutup Bakar tadi. Hatinya bergetar pelan, tiba-tiba merasa riang, dan gembira.

.

.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!