Pesona Suamiku yang Tidak Pernah Memilihku

Pengampunan

Gerimis makin rapat saat mereka meninggalkan pemakaman.

Bakar masih diam, menatap jalanan basah di depan. Ria di sebelahnya, memeluk tas kecil di pangkuan, matanya sesekali menatap jendela yang dipenuhi titik-titik hujan.

Radio memutar sisa lagu ~So FarAway, tapi kini suaranya terdengar lebih tenang.

“Bapak lebih tenang,” ucap Ria akhirnya, pelan.

Bakar menoleh sekilas, bibirnya bergerak membentuk senyum tipis. “Kadang yang bikin berat,” katanya pelan, “rasa bersalah yang belum selesai.”

Ria mengangguk pelan. “Kalau gitu … terima kasih udah ngajak aku ke sana, Pak. Aku jadi ngerti sesuatu.”

“Ngerti apa?”

“Bahwa kadang, luka yang gak disembuhin bisa bikin kita nyakitin orang yang gak salah.”

Bakar terdiam. Matanya masih ke depan, tapi rahangnya sedikit mengeras.

“Termasuk kamu?” tanyanya datar, nyaris seperti gumaman.

Ria tak menjawab. Hanya senyum kecil di ujung bibirnya yang seolah berkata ya, tapi aku udah gak marah lagi.

Mobil terus melaju, menyisakan keheningan yang aneh—bukan dingin, tapi menenangkan.

Malamnya, di kamar, Ria menatap ke luar jendela, gerimis belum juga reda.

Ada sesuatu yang baru di dadanya, bukan cinta, tapi semacam keberanian untuk berdamai.

Sementara di rumah lain, Bakar menatap bingkai foto Risya di meja kerjanya. Ia menaruh segelas kopi, lalu membuka pesan di ponsel.

“Terima kasih mau datang. Aku lega akhirnya kamu tahu.”

Tapi sebelum sempat dikirim, ia menghapusnya. Cukup dengan senyum kecil di wajahnya malam itu, senyum lega.

***

Keesokan harinya, toko ramai seperti biasa.

Rini sibuk mengatur pesanan, Nadia mengetik caption promosi, dan Adit baru datang membawa bahan.

“Siang semuanya!” serunya ceria.

“Siang, Mas Adit,” sahut Rini.

Bakar hanya mengangguk, sedangkan Ria menunduk, sibuk menata Croissant. Tapi ada senyum samar yang nyaris tak terlihat.

Nadia yang memperhatikan mereka sejak pagi berbisik ke Rini, “Ada yang aneh gak sih, suasananya kayak … lebih tenang.”

Rini nyengir. “Lebih tenang atau lebih baper?”

Keduanya terkekeh kecil.

Adit menghampiri Ria. “Teteh kemarin kayaknya dianterin ya?” godanya ringan.

Ria sempat kaget, tapi sebelum sempat menjawab, suara berat terdengar dari meja di sudut ruangan.

“Anak baru, kalau banyak komentar, siap-siap nyuci loyang hari ini.”

Nadia langsung menutup mulut menahan tawa, sementara Adit hanya nyengir, menggaruk tengkuknya.

Ria melirik Bakar sekilas—pandangan singkat yang lebih banyak bicara daripada seribu kalimat. Diam-diam sedang belajar melepaskan masa lalu—dan mungkin, tanpa sadar, sedang menapaki awal dari sesuatu yang baru.

***

Pagi itu rumah keluarga Wafa terasa hangat, aroma teh melati dari dapur bercampur dengan harum roti mentega yang baru saja keluar dari oven kecil milik Winda.

Dari ruang tengah, Hasan duduk di kursinya dengan sebuah kanvas besar di pangkuannya.

Winda memerhatikan dari balik pintu, lalu berjalan mendekat.

“Itu … lukisan Deni?” tanyanya pelan.

Hasan mengangguk. “Dia titip ini waktu aku pulang dari lapas kemarin.”

Suara lelaki itu berat, tapi lembut. “Katanya, dia cuma pengin aku bawain ini buat Lea. Ungkapan cintanya Deni.”

Winda ikut duduk di sebelahnya. Lukisan itu masih terbungkus kertas cokelat. Hasan membuka perlahan, hingga aroma cat minyak tipis menyeruak.

Di atas kanvas tergambar sosok perempuan muda berambut pendek, mengenakan seragam lapas warna abu-abu. Ia menatap ke langit dengan mata terpejam, senyum samar di bibirnya, rambutnya yang kini hanya seleher tampak tertiup angin lembut.

Lea tampak kurus, tapi ada ketenangan di wajah itu—bukan kepasrahan, melainkan sejenis damai yang sulit dijelaskan.

Winda menutup mulutnya, menahan haru. “Ya Allah, anak itu … akhirnya bisa tersenyum juga.”

Hasan mengangguk pelan.

“Deni bilang, dia melukis ini dari foto terakhir Lea di halaman dalam lapas. Katanya, di fotoin sipir waktu sore, cahaya matahari jatuh pas di wajah Lea. Dia bilang, itu momen paling tenang yang pernah dia lihat darinya.”

Langkah kecil terdengar dari arah tangga. Qalesya muncul, masih dengan daster putih sederhana.

“Ayah, Mama—ngeliat apa?” tanyanya sambil berjalan mendekat.

Hasan menoleh, lalu memutar lukisan itu ke arahnya.

Qalesya membeku beberapa detik. Matanya menatap tak berkedip pada wajah di kanvas itu.

“Ini … Kak Lea?” suaranya hampir berbisik.

Hasan mengangguk. “Iya.”

Qalesya tersenyum perlahan, mengusap permukaan kanvas yang masih licin itu dengan hati-hati, seolah takut merusak sapuan warna di wajah kakaknya.

“Cantik banget … tapi kelihatan beda. Lebih tenang.”

“Deni yang melukis?” tanya Wafa yang baru keluar dari kamar, sambil merapikan kerah bajunya.

“Iya,” jawab Hasan. “Katanya setiap kali nyentuh kuas, dia kayak bisa ngobrol sama Lea lewat warna.”

Qalesya tersenyum kecil. “Boleh aku ke sana, Mas? Mau ngasih lihat kalau dia bakal jadi bibi," pintanya pada Wafa yang kini mengajaknya duduk di sofa.

Wafa spontan menatap istrinya, matanya langsung turun ke perut Qalesya yang mulai tampak membuncit.

“Kamu lagi hamil, Sayang. Nggak usah jauh-jauh dulu, ya?”

Qalesya balik memandangnya, lembut tapi tegas. “Aku pengin Kak Lea tahu kabar ini langsung dari aku. Dia harus tahu kalau aku bahagia, kalau semua sudah baik-baik aja.”

Hasan menimpali, “Ada Ayah.”

Winda menambahkan, “Mama ikut juga.”

Keduanya saling berpandangan, lalu tersenyum mendukung.

Wafa menghela napas. Melihat mata istrinya yang berbinar, ia tahu percuma melarang.

“Ya udah. Tapi kamu ditemani Dewi. Aku sama Bakar besok ada meeting penting.”

“Siap, Mas!” sahut Qalesya dengan senyum lebar, memeluk suaminya erat sebelum bergegas menyiapkan keperluan kecil untuk besok.

Keesokan paginya

Langit mendung, tapi udara masih lembut saat mobil putih Winda berhenti di depan gerbang lapas wanita.

Qalesya duduk di kursi belakang, tangannya sesekali mengusap perutnya, sementara Dewi di samping sopir membawa tas kecil berisi buah dan roti buatan Winda.

“Deg-degan?” tanya Hasan dari kursi depan.

Qalesya mengangguk. “Entah kenapa … rasanya kayak mau ketemu bagian dari diriku sendiri yang sempat hilang.”

Hasan menatap putrinya lewat kaca spion, lalu tersenyum. “Mungkin memang begitu. Karena kamu dan Lea, dua-duanya punya luka yang sama—cuma caranya bertahan yang beda.”

Ketika mereka memasuki ruang kunjungan, waktu seolah melambat. Ruangan itu lebih sepi, masih dengan meja besi di tengah dan kursi plastik di kedua sisi.

Lea muncul di ambang pintu, diantar petugas. Rambut pendeknya tampak lebih rapi, langkahnya mantap. Tapi matanya melebar begitu melihat Qalesya.

Adiknya kini tampak berisi, wajahnya bersinar, dan—Lea langsung menangkapnya—perut yang mulai membuncit lembut.

“Ponakan,” gumamnya pelan. Suaranya getir, tapi bibirnya tersenyum samar.

Qalesya berdiri, matanya berkaca-kaca. “Iya, Kak. Ponakan yang nanti bakal kenal siapa bibinya dari cerita-cerita baik.”

Lea masih berdiri beberapa detik, lalu perlahan duduk di seberang meja. “Selamat, ya…” katanya lirih.

“Terima kasih, Kak.”

Sunyi menyelimuti ruangan. Qalesya menggenggam jemarinya sendiri di atas meja, sementara Lea menatap wajah adiknya dengan tatapan campur antara senang dan sedih.

“Aku seneng ke sini,” ucap Lea pelan. “Ternyata kamu bisa bahagia juga.”

Qalesya tersenyum, memandangi wajah Lea. “Aku bisa karena kalian juga.”

Lea tertawa kecil. “Kamu masih suka ngomong manis aja, ya.”

“Tapi ini bener,” balas Qalesya. “Dulu kamu yang ngajarin aku keras kepala.”

Lea menatapnya lama, lalu berkata dengan suara pelan, “Aku minta maaf, Qale. Buat semua yang pernah aku lakuin...”

Qalesya menggeleng cepat, lalu meraih tangan Lea di atas meja. “Kamu masih bisa, Kak. Aku menunggumu."

Air mata akhirnya tumpah di wajah Lea. Tangannya menggenggam balik jemari adiknya erat-erat. “Terima kasih. Karena kamu datang, aku ngerasa masih dimaafkan.”

Qalesya mengangguk, tanpa kata, matanya mulai sembab. Dia terharu, Lea mengucapkan maaf.

Ketika waktu besuk hampir habis, Hasan berdiri di luar kaca ruang kunjungan, menatap kedua anaknya dari kejauhan. Winda yang ikut menemaninya menutup mulut, ikut trenyuh.

“Lihat…” bisik Hasan. “Mereka akur lagi. Tapi kali ini bukan buat saling menjatuhkan.”

Winda mengangguk pelan.

“Kadang Allah nggak langsung kasih kebahagiaan. Dia kasih pertemuan yang memperbaiki luka dulu, baru setelah itu—damai.”

Di dalam, Lea dan Qalesya masih saling menggenggam tangan. Dua jiwa yang pernah tercerai, kini perlahan belajar memaafkan.

Cahaya kecil menembus kaca, jatuh lembut di atas meja besuk itu—tepat di tangan keduanya.

.

.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!