Pesona Suamiku yang Tidak Pernah Memilihku
Deni Arwandhana
Qale pulang ke toko dengan wajah pucat. Langkahnya gontai turun dari ojol, membuka pintu pun tangannya gemetar, lalu menjatuhkan tubuh di atas sofa custom yang dibeli Wafa beberapa waktu lalu.
Air matanya tak lagi jatuh. Hanya kekosongan mengisi relung hati. Kepalanya dipenuhi dugaan.
"Demi melindungi satu orang, Ayah mengorbankan yang lain … aku.”
"Apa alasannya? Apa salahku?" lirih Qale pelan, matanya menatap langit-langit, sebelum akhirnya terlelap di antara lelah dan kecewa.
Keesokan pagi, Wafa datang sebelum toko buka karena cemas semua pesannya diabaikan. Meski sudah saling simpan kontak sejak beberapa pekan lalu, tapi Qale tak pernah sekalipun berkirim kabar padanya.
Saat Qale membuka pintu, Wafa langsung masuk. “Kamu kenapa?” suaranya parau.
Qale tak menjawab. Ia hanya berjalan gontai ke dalam, duduk diam di kursi toko. “Semua dugaanku benar,” bisiknya.
Wafa mendorong kursi rodanya mendekat, mengamati ekspresi wanitanya. "Kan sudah kubilang, siap atau nggak?" balasnya. "Kalau mau stop ... boleh, kok."
Qale duduk tegak, menggeleng pelan seolah separuh hatinya ragu. "Nggak mau, udah jauh gini," jawabnya bangkit dan mulai membereskan toko.
Wafa diam sebentar. Lalu ia pamit—akan pergi beberapa pekan dan kembali jelang resepsi pernikahan Lea. Qale ingin bertanya lebih, tapi ia urungkan. Ia takut, rasa pedulinya berubah jadi sesuatu yang lebih dalam.
***
Waktu berlalu cepat.
Hari ini pernikahan Lea. Teras depan rumah disulap jadi ruang sakral yang dipenuhi bunga putih dan lampu gantung kekuningan. Para tamu datang silih berganti. Semua tampak mewah. Indah. Hampir seperti mimpi.
Qale duduk di sisi Wafa. Ia mengenakan kebaya hijau emerald berpadu emas. Elegan. Lembut. Classy.
Wafa tak henti menatapnya. Tatapan penuh kekaguman saat melihat Qale membantu menyambut tamu. Senyumnya hangat, sorot matanya damai.
Tapi hanya Wafa yang tahu—di balik anggunnya Qale, ada badai yang belum juga reda.
Saat akad dimulai, Qale diam. Ia mengamati. Merekam.
Suara Deni terdengar mantap saat mengucap ijab kabul. Lea tampak manis dalam balutan kebaya putih dan veil tipis. Semua mengucap doa, terlihat bahagia.
Kecuali Qale.
Ada bagian di dalam dirinya yang kecewa tapi tak bisa ditunjukkan. Acara kemudian dilanjutkan ke gedung tempat resepsi.
Wafa menggenggam tangan istrinya, meremat hangat. Seolah menegarkan bahwa dia tidak sendiri.
Qale menunggu hingga semua acara selesai. Dia ikut pulang ke rumah Hasan. Setelah ganti baju dan mandi, kemudian dia masuk ke kamar Lea. Diam-diam. Tanpa sepengetahuan siapa pun.
"Kak."
"Apa!” tanya Lea malas, dia duduk di sisi ranjang, sedang menyisir rambut.
Qale berdiri di depannya, tak langsung bicara. “Aku cuma mau satu hal. Kejujuran.”
Lea tertawa kecil, sinis. “Tentang apa lagi? Ribet bet ngurusin idup orang.”
Qale menunjuk. “Soal matamu.”
Keheningan membeku di antara mereka.
Lea melipat tangan. “Oh. Balik ke topik itu.”
Qale masih berdiri, kali ini sambil bersedekap. “Kamu nggak buta permanen, Kak. Dulu ... Aku sering liat kalau Kakak seakan nggak buta.”
"Aku mengamati ... Bukan cuma saat fitting baju, tapi sejak lama," suara Qale bergetar, menahan emosi. "Pembohong!" Tatap Qale nanar.
“Adik sialan,” desis Lea, tersenyum miring. "Playing victim ... AKU BUTA GARA-GARA KAMU!” teriak Lea, berdiri sambil mendorong Qale.
Qale terdiam. Sikap Lea membuat dirinya makin yakin.
Lea maju dua langkah. “Kamu sengaja kan!" Tatapan Lea nyalak. "Anak sialan, cuma beban!”
Napas Qale bergetar. Tangannya mengepal di sisi tubuh. Selain anak durhaka, kini kakaknya menyebut sebagai anak sial.
“KAMU IRI?!” teriak Lea. Terus mendesak Qale.
“Kamu bisa sembuh, kan! Tapi Kakak milih untuk terus ‘buta’ demi apa? ... perhatian?” Qale melangkah lagi. Kali ini dia mencabut kacamata Lea.
Dan … untuk sesaat, Lea panik. Refleks menutupi wajahnya.
“Keluar dari kamarku!” Lea menjerit.
“Ngaku, Kak!” Qale ganti mendorong Lea. “Semua ini skenariomu, kan?!” cecar Qale terus maju sampai Lea terduduk di sisi ranjang.
Tiba-tiba pintu kamar terbuka. Brak!
Hasan berdiri di ambang pintu. Wajahnya tegang. Napasnya berat. Hasan tak menjawab. Ia menatap nanar. Rahangnya tampak mengeras.
Qale menoleh. “Ayah...” bisiknya, sambil menunjuk wajah Lea. “Jawab aku, Yah. Kak Lea nggak buta total, kan?”
Hasan memejamkan mata. Diam.
“Ayah...,” lirih Qale. “KENAPA DIAM. IYA, KAN?”
Hasan akhirnya bersuara. “Cukup, Qale. Jangan ganggu dia.”
Qale tertawa getir, melihat ayahnya. "Cukup? Jadi demi dia!" Tunjuknya ke wajah Lea.
Lea menyambar kacamatanya dari tangan Qale. Napasnya memburu.
Deni masuk tak lama setelah itu, dia mendengar semuanya. Begitupun Wafa yang menyusul di belakangnya.
“Kamu gila!” bentaknya menunjuk Qale. “Apa buktinya?"
Qale tersenyum miring. "Jangan ikutan, bagianmu belum kumulai!" tegasnya pada Deni.
Deni tertawa. "SARAAPP!"
Wafa maju, dia menarik lengan Deni sehingga lelaki itu melihatnya. "Heh! Jangan senang dulu!" Wafa menunjuk wajah Deni dengan tatapan tajam.
“Oh ya? Aku inget semua ... malam itu.” Qale menatap Deni tajam. “Dan bukti itu … sudah aku serahkan ke polisi.”
Deni sontak mundur setapak. Wajah Lea menegang. "Bukti apa?" gumamnya pucat.
Hasan maju, hendak menarik tubuh Qale keluar agar berhenti berulah.
"KAMU MAU NGANCURIN HIDUPKU!” teriak Lea sambil menerjang, memukul, mencakar, mendorong tubuh adiknya dengan membabi buta.
Dia meraih benda terdekat—vas bunga kecil—dan melemparkannya ke arah Qale.
"Kamu, Kak! Jahat!" seru Qale sambil menahan amukan Lea. "Jahat!!!"
Qale terjatuh, pelipisnya terbentur sudut lemari. Darah mengucur tipis.
"Qale!" Wafa mendorong kursi rodanya cepat, dia sampai menabrak Hasan yang menghalanginya.
Wafa langsung memeluk tubuh istrinya, menahan Qale dari serangan Lea.
Qalesya gemetar, baju suaminya terkena darah. Pandangannya kini kabur karena tetesan darah.
"LEA!!” seru Hasan. Dia ikut menahan, tapi terlambat.
Di tengah kekacauan itu.
Langkah berat terdengar dari luar. Dua pria berpakaian batik masuk ke dalam. Salah satunya menunjukkan lencana. "Selamat malam," ucap mereka di ambang pintu kamar.
Semua orang di dalam kamar Lea menoleh ke sumber suara.
“ENGGAK!!” Lea menjerit. Masih berusaha menyerang Qale.
Napas Qale memburu, dia bangkit, menyeka darah di pelipisnya lalu menatap Lea dingin. Tak ada air mata. Tapi bibirnya mengucap perlahan. Hampir tak terdengar.
“Aku membenci kalian semua ...”
Teriakan Qale tak keluar. Tapi amarahnya kentara. Matanya nanar melihat semua wajah yang seharusnya jadi pelindung. Hasan. Lea.
Semua yang pernah ia beri maaf, tapi tak pernah benar-benar mengerti lukanya.
"Ma-lam, Pak," jawab Hasan terbata. "Ada apa—?
Lea masih berontak, menangis dalam dekapan Hasan. Sorot matanya menyiratkan ketakutan.
.
.