Pesona Suamiku yang Tidak Pernah Memilihku
Ketemu Winda
Elan melihat kemesraan yang Wafa tunjukkan. Hatinya bertanya, terjalin hubungan seperti apakah antara Wafa dan Qale.
Ria tersipu menyaksikan sikap romantis Wafa. Dia menduga bahwa Wafa memang special di hati Qale.
Setelah toko tutup dan memastikan terkunci aman, Wafa mengajak Qale pulang. Bakar sudah kembali dan menunggu di mobil.
Dua jam perjalanan, biasanya Qale sudah terlelap. Tapi, kali ini matanya tak beranjak dari jalanan. Ada rasa cemas yang mengendap—tentang siapa yang akan ia temui malam ini.
Mobil berhenti di depan rumah besar bercat putih. Hunian yang paling dominan bila dibandingkan dengan sekitar.
Aroma masakan menyelinap dari balik pintu. Perut Qale merespon dengan bunyi memalukan.
“Sirene ambulan bunyinya lain ya, Bos,” celetuk Bakar membuat Qale tersipu.
"Yeee ni perut emang malu-maluin," desis Qale menunduk.
Wafa yang mendengar pun ikut tertawa ringan. “Bantu aku masuk, Sya," pintanya mengalihkan perhatian.
Qale mendorong pelan menaiki tanggal landai di sisi kiri rumah. Belum sempat menyentuh gagang pintu, bau gula gosong bercampur susu, mentega, dan teh menyeruak.
Mereka memberi salam, ketika panel pintu terbuka. Lampu ruang tengah yang menyambung dengan ruang makan menyala terang.
Vas kristal berdiri elegan di tengah meja, berisi mawar putih, petunia, dan anggrek ungu. Dari dapur, seorang wanita paruh baya ber-apron bunga keluar membawa baki penuh makanan. ART Wafa , Ceu Yati, menyusul di belakangnya.
“Haaaaiii, belum selesai kok sudah datang?” sapanya riang.
“Damkar nggak pake rem,” jawab Wafa, merentang kedua lengannya menyambut beliau.
Bakar yang sudah duduk menoleh, “Daripada ngerem mulu, mending gaaassss biar enak.”
Wanita itu menggeleng sambil menyematkan senyum. Wafa pura-pura tak dengar. Qale masih berdiri, kaku.
Ia mendekati Wafa, memeluk dan mencium pipinya. “Maaf ya, maksa,” ujarnya saat melepas pelukan.
“Nggak ... emang udah waktunya,” jawab Wafa melirik Qale.
Senyum wanita itu menghangat. Ia menghampiri Qale, meraih bahunya lalu memeluk tubuh gadis ini yang terasa canggung.
“Akhirnya kita ketemu. Aku ... mamanya Wafa, Winda," bisiknya lembut sambil mengusap punggung Qale, sebelum mengurai dekapan.
Qale membola, buru-buru menjabat dan mengecup tangannya. “Maaf, aku … nggak sopan.”
Winda terkekeh, “Mama yang minta ketemu kamu.” Tangannya mengusap pipi Qale.
Wafa sudah di meja. Hidangan hangat tersaji—mashed potatoes, bistik, sayuran rebus, dan puding singkong karamel. Aroma bistik membuat Qale tercekat. Persis masakan yang dihidangkan Rahayu di hari ulang tahunnya.
Qale masih diam, meski Winda sudah menarik kursi di sebelahnya.
“Kata Wafa ... dia pernah dibikinin ini sama Bu Rahayu,” ucap Winda. “Dia suka banget, sampai nanya resepnya ke beliau. Nah, koreksi ya Qale, sesuai belum sama bikinan ibu,” ungkapnya saat menyajikan hidangan ke pinggan Qale.
Wafa memandangi istrinya tanpa kedip, mengunyah pelan, menunggu reaksi Qale.
Potongan bistik berpindah ke mulutnya, Qale menyesap rasa, mengunyah perlahan lalu menarik napas.
Pantas rasanya mirip. Qale menahan senyum pahit—ibunya ternyata sedekat itu dengan Wafa.
Dia mengangguk. "Sama seperti buatan ibu," cicitnya melirik ke arah Wafa lalu Winda.
Winda mengusap bahu menantunya. “Bu Rahayu orang tulus,” lanjut Winda. “Mama bersyukur Wafa selamat, meski Mama nggak sempat ketemu beliau.”
Ia lantas menatap Qale. “Terima anak Mama, ya. Baik buruknya.”
“Buruk semua, Tan,” seloroh Bakar.
“Mending buruk daripada burik,” balas Wafa, tertawa lebar. "Burik tuh susah dipermak."
Bakar tak terima, dia membalas, "Tinggal ganti casing, oplas."
"Pake plastik ember, biar kokoh hasilnya, warna warni pula," sambar Wafa diikuti tawa semuanya.
Mereka larut dalam obrolan santai hingga jelang tengah malam. Bercengkerama di ruang tengah ditemani wedang jahe dan kacang rebus. Lalu Winda bertanya pelan, “Sudah ke ayah?”
Deg. Qale menggeleng. Tatapannya langsung tertuju ke lantai.
“Besok ke sana, yuk,” ajak Winda. “Walaupun salah, beliau tetap orang tua. Mama juga mau kenalan, waktu kalian menikah ... Wafa melarang mama datang," bebernya melirik kecewa ke arah putranya.
"Ya kan dia ngerasa terpaksa nikah sama aku," kekeh Wafa melirik Qale, "nanti makin nggak nyaman."
Qale mengulas senyum tipis, menunduk malu, ingat momen pernikahan mereka yang tanpa rasa apalagi makna. Dan saat itu, lukanya masih basah.
Diamnya Qale membuat Wafa melihat ke arah ibunya agar stop membuat Qale merasa canggung lagi.
“Jangan dipaksa, Ma,” potong Wafa. “Bobok, Sya.” Dia melajukan kursi rodanya lebih dulu.
Winda mengangguk. Mengusap punggung menantunya dengan sayang. Qale pun bangkit menuju kamarnya.
Baru saja dia menekan tuas pintu kamar, suara Winda membuatnya menoleh lagi.
“Loh, nggak masuk kamar Wafa?” tanya Winda.
Glek. Qale tercekat. Senyumnya kaku, padahal dadanya deg-degan seperti baru saja ketahuan nyolong kue.
“Eh … iya, lupa.” Senyum canggungnya malah membuat Winda tersenyum geli.
Wafa menahan tawa, lalu kembali mendekati sang istri dan menarik tangannya. Tapi tak lama, Qale keluar lagi.
Dia melangkah ke kamarnya dengan alasan mau ambil tas. Padahal, menyambar baju ganti yang memang sudah ia simpan di lemari. Baru kali ini mereka—dia dan Wafa—resmi berada dalam satu kamar.
Wafa menyusul ke dapur mengambil air. Begitu ia pergi, Winda menatap Bakar yang masih memangku sepiring kacang rebus.
“Kar, mereka baru sekamar apa gimana sih?” Winda menunjuk menantu dan putranya yang terlihat kikuk.
Bakar terbatuk, hampir keselek. “Eenggghhh…” dia meraih minumnya.
"Ish, jelasin ke Mama," desak Winda.
"I--," jeda Bakar. Dia terdiam sebab melihat Wafa siap melemparkan gelas ke arahnya.
"Heh, Damkar! Malah bengong!" cecar Winda tak sabar, menepuk lengan Bakar sampai air minumnya tumpah, kacang berserakan di pangkuannya.
Qale terpaku di ambang pintu, wajahnya merona, takut Bakar buka rahasia. Wafa menatap tajam Bakar dari dapur … setajam pisau roti di meja.
Glek! Bakar merasakan tatapan pasangan itu lalu melirik Winda, otaknya berpikir, kabur atau dilempar gelas.
.
.