RAHASIA DI BALIK PESONA CANTIK USTADZAH VIRAL
2. KEBOHONGAN YANG SEMPURNA
“Selain dugaan penggelapan dana dan korupsi yang dilakukan oleh tersangka JI, kami mendapatkan informasi bahwa ternyata tersangka juga mempunyai kekasih gelap. Tidak hanya satu, tetapi beberapa wanita dikabarkan pernah menjadi kekasih gelap JI.”
Suara pembawa berita masih terdengar dengan jelas, sekarang mereka mulai membahas satu per satu wanita yang diduga menjadi kekasih gelap ayah Farah.
Haris segera mematikan televisi itu dan berlari membantu Farah mengangkat ibunya. Setelah membaringkan ibunya di kamar, mereka berdua keluar karena ada beberapa tamu yang telah menunggunya.
“Selamat sore, kami dari pihak kepolisian perlu menggeledah ruang kerja Saudara Jafar Iskandar. Ini surat ijin penggeledahannya,” kata salah seorang Polisi sambil menyerahkan sebuah amplop. Haris menerimanya dan membaca isi surat itu. Kemudian dia mengangguk dan mempersilakan para Polisi melakukan tugasnya.
Seluruh penghuni rumah diminta berkumpul dan Polisi pun memulai penggeledahannya disaksikan oleh Haris.
Semua berjalan dengan cepat dan tiba-tiba. Malam itu Farah tidak bisa tidur. Hujatan demi hujatan dia terima di laman media sosial miliknya. Fitri bahkan memberitahukan kalau semua jadwal ceramah dibatalkan secara tiba-tiba oleh para kliennya. Farah hanya bisa pasrah mendengarnya. Dia pun meminta Fitri dan Darma untuk beristirahat sampai kondisi kembali kondusif.
Sesuai dengan apa yang telah mereka sepakati, tak ada seorang pun yang keluar rumah hingga seorang pengacara datang ke rumah mereka. Seorang sahabat baik ayahnya bersedia menjadi pengacara keluarga itu. Dia pun berjanji untuk membantu sebisa mungkin.
“Sebisa mungkin? Kenapa Om tidak membantu mengungkapkan kebenarannya? Sebisa mungkin itu maksudnya apa?” tanya Farah yang kritis dengan tajam.
Pengacara itu gelagapan. Dengan terbata-bata dia mengatakan untuk mencoba mendapatkan hukuman seringan-ringannya.
“Bukti yang diperoleh sangat kuat sedangkan kita tidak mempunyai bukti pembandingnya. Itu yang susah, Farah,” ujarnya meyakinkan.
“Om sudah kenal Ayah bukan baru-baru ini, ‘kan?” tanya Farah dengan heran. Lelaki itu menganggukkan kepalanya.
“Apakah Om percaya dengan semua berita itu?” tanyanya lagi. Lelaki itu ganti menggelengkan kepalanya.
“Om juga sama seperti kalian. Shock dan tidak percaya dengan apa yang diberitakan di media massa. Tetapi kita tidak bisa hanya bicara menolak semua itu jika tanpa bukti,” jawab pengacara itu dengan sabar.
“Kalau gitu, ayo kita cari buktinya, Om,” ajak Farah bersemangat. Lelaki itu tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
“Susah, Farah. Mereka pasti sudah menutup semua akses yang bisa meringankan Ayah kamu,” sahut pengacara itu lagi.
“Benar. Mereka memang ingin membuat Ayah seperti ini. Mereka mungkin membutuhkan orang untuk dikambinghitamkan. Kurang ajar!” timpal Haris sambil menggebrak meja dan berjalan meninggalkan ruangan di mana mereka berkumpul itu.
“Mas?!” seru Farah yang tidak setuju dengan perkataan kakaknya itu.
“Apa? Itu kenyataannya, Ra. Mereka pasti lebih berduit dan berkuasa. Jika kita lawan, ibarat semut melawan gajah,” lanjut Haris berhenti sejenak kemudian kembali berjalan meninggalkan mereka. Farah melihat kakaknya dengan kesal dan memandang iba ke arah ibunya.
Ibu Farah terlihat mulai tidak fokus. Sepeninggal pengacara, Ibu Farah mengurung diri di kamarnya. Pemberitaan tentang Ayah Farah sudah tidak sebombastis sebelumnya, tetapi kesibukan mereka kian meningkat seiring dimulainya persidangan sang ayah.
Ternyata menghadapi persidangan tidak sesederhana yang sering dilihat Farah di sinetron. Dia harus stand by di rumah jika sewaktu-waktu ada panggilan sidang. Farah tak ingin melewatkan sekali pun sidang ayahnya. Berbeda dengan ibu dan kakaknya.
Haris bahkan lebih sering keluar rumah dan berhari-hari tak kembali. Entah kemana dia. Hampir semua temannya menghindari lelaki itu. Teman yang dulu sangat dekat saat sang ayah masih memegang jabatan, sekarang menghilang bagai ditelan bumi. Haris tentu saja sangat tersiksa. Selama ini dia selalu diagung-agungkan temannya, sekarang tak satu pun teman yang mau mengenalnya.
“Aku tidak bisa terus-terusan hidup seperti ini, Ra. Aku akan mencari kehidupanku sendiri,” ujar Haris suatu hari.
“Mas Haris mau kemana, sih? Kasihan Bunda, Mas,” kata Farah mencoba menenangkan sang kakak. Haris mendengus kesal.
“Jangan merengek seperti anak kecil, Ra. Kamu juga harus mulai menentukan langkah kamu sendiri,” tukas Haris dengan tatapan tajamnya ke arah adik satu-satunya itu.
“Tidak ada lagi ‘kan yang mau mengundang kamu untuk berceramah? Siapa yang mau mendengarkan ceramah ustadzah yang ayahnya dipenjara karena korupsi dan selingkuh?” cerca Haris dengan keras. Farah terdiam tanpa bisa membela diri. Apa yang dikatakan kakaknya memang tidak salah. Semuanya benar. Hanya saja melarikan diri dari masalah adalah bukan sebuah solusi yang tepat.
Keesokan harinya Farah benar-benar tak lagi menemukan sang kakak. Dia telah menghilang bahkan tanpa berpamitan kepadanya ataupun kepada bundanya.
“Aaa!!”
Terdengar teriakan keras Bunda Farah dari kamarnya. Bergegas Farah lari diikuti Simbok yang juga mendengar teriakan itu dengan tergesa-gesa.
“Apa yang terjadi, Non?” tanya Simbok disela-sela langkah kaki mereka.
“Entahlah, Mbok. Semoga Bunda tidak kenapa-napa,” jawab Farah sambil membuka pintu kamar sang bunda.
“Astaghfirullohal ‘adzim, Bunda!” teriak Farah saat melihat bundanya terkapar tak berdaya di lantai. Dengan cepat Farah dan Simbok mengangkat wanita setengah baya itu dan membaringkannya di tempat tidur.
“Sekretaris pribadi JI telah mengakui hubungan terlarangnya dengan sang atasan. Bahkan mereka telah mempunyai seorang buah hati dari hubungan terlarang itu. Semua pemberitaan tentang perselingkuhan itu terbukti sudah. Mereka telah melakukan serangkaian tes DNA dan hasilnya akan diketahui tak lama lagi.”
Farah terdiam mendengar berita yang sedang berlangsung itu. Dia pun paham kenapa bundanya berteriak histeris seperti ini. Gadis itu memandang bundanya dengan rasa nelangsa yang sangat dalam. Siapapun di antara mereka tentu tidak mempercayai hal itu. Tetapi benar kata pengacara itu, mereka memang telah mempersiapkan semuanya dengan detail untuk menjerat sang ayah.
Farah mendengus kesal dan segera mematikan televisi. Wajahnya berpaling menatap bundanya. Seulas senyum pun terbit di sana. Simbok yang melihat situasi itupun akhirnya keluar dari kamar.
“Bunda tetap percaya kalau Ayah tidak mungkin melakukan semua hal itu, ‘kan?” tanya Farah lirih sambil mengelus lengan bundanya.
Bunda Farah diam saja tanpa bereaksi. Farah menunggu dengan sabar. Hingga akhirnya sebuah gelengan di kepala bundanya membuat Farah kembali berpikir.
“Bunda tidak ingin mempercayainya, Ra. Dua berita perselingkuhan sebelumnya, Bunda tidak memikirkannya. Tetapi ini --,” ujar Bunda Farah terputus. Dia menghela nafas dalam dan menatap anak perempuan semata wayangnya itu dengan tatapan dalam.
“Kita semua tahu sedekat apa wanita itu dengan ayahmu. Bahkan kita menganggap seperti saudara sendiri. Kamu pikir apakah memang dia senaif itu, Ra?” lanjut Bunda Farah dengan nada putus asa. Farah terdiam kelu. Apa yang dikatakan Bundanya memang tidak salah.
Sekretaris itu masih tergolong muda dan belum berumah tangga. Dia sangat dekat dengan keluarganya dan semua orang mempercayainya. Berkali-kali berdinas keluar kota dengan ayahnya pun tak ada yang mencurigainya. Tetapi Ayahnya selalu mengajak serta beberapa pegawai jika memang harus keluar kota. Tidak pernah hanya mereka berdua, karena itulah mereka tidak pernah berpikir negatif.
“Aku tidak percaya. Si Mbak bukanlah tipe seorang wanita penggoda,” batin Farah.
Ketukan di pintu kamar membuyarkan keheningan sejenak yang menyergap di kamar Bunda Farah. Simbok masuk sambil membawa sebuah bungkusan paket. Tanpa sengaja Farah menangkap secercah kegembiraan di wajah bundanya.
“Paket? Dari mana, Mbok?” tanya Farah heran. Simbok membolak-balik bungkusan itu sambil menggelengkan kepalanya.
“Nggak ada nama pengirimnya, Non. Cuma tadi yang nganter bilang kalau ini untuk Nyonya,” jawab Simbok sambil menyerahkan bungkusan kecil itu kepada juragannya.
“Bun?!” panggil Farah yang merasa heran dengan bundanya. Dia tampak tidak lagi mempedulikan keberadaa Farah dan Simbok.
“Keluarlah. Bunda mau istirahat,” usir Bunda Farah sambil menatap Farah dan Simbok bergantian. Mereka berdua pun akhirnya bergegas keluar dari kamar. Sebuah seringai terlihat di senyuman sang bunda.