Sistem Penebusan Ibu Pemarah
09. Kepercayaan yang Retak
"Bu, aku berangkat dulu."
Suara Raka terdengar dari depan rumah.
Mira yang sedang menyiapkan bekal sederhana segera keluar dari dapur sambil membawa sebuah bungkusan daun pisang.
"Tunggu sebentar."
Raka menghentikan langkahnya.
"Ada apa?"
"Ibu buat nasi timbel sama tempe goreng."
Raka memandangi bungkusan itu cukup lama.
Biasanya ia berangkat sekolah tanpa bekal. Jika lapar, ia hanya minum air putih sampai pulang.
Bukan karena Mira tidak bisa membuat bekal, melainkan karena ibunya sering menganggap bekal sekolah sebagai pemborosan.
"Kamu... buat untukku?"
"Iya."
Raka masih tidak bergerak. "Tidak perlu. Aku tidak biasa makan siang."
"Bawa saja."
"Aku bilang tidak usah." Nada suara Raka mulai meninggi.
Mira tidak memaksa. Ia mengangguk pelan lalu meletakkan bungkusan itu di atas meja dekat pintu.
"Kalau berubah pikiran, ambil saja."
Raka menatap wajah ibunya beberapa detik. Ia seperti sedang mencari sesuatu.
Mungkin kemarahan. Bentakan. Namun yang ia temukan hanya senyum kecil yang terasa canggung.
Tanpa berkata apa-apa, ia keluar rumah.
Begitu suara langkahnya menghilang, Mira menghembuskan napas panjang.
Rasanya sakit. Tetapi ia mengerti.
Kepercayaan yang rusak selama bertahun-tahun tidak akan pulih hanya dalam beberapa hari.
Satu jam kemudian, Mira sedang menyiram tanaman ketika layar sistem muncul.
Peringatan.
Hubungan dengan Anak Sulung berada dalam kondisi rapuh.
Rekomendasi: Jangan memaksa. Bangun kepercayaan melalui tindakan yang konsisten.
Mira mengangguk pelan.
"Aku mengerti."
Selama ini ia selalu memaksa semua orang mengikuti keinginannya. Sekarang sistem justru mengajarinya untuk bersabar.
Menjelang siang, Bu Rini datang membawa beberapa batang bambu kecil.
"Kenapa melamun?"
Mira terkejut. "Tidak apa-apa."
“Pasti kamu kepikiran soal lahan tambahan? Kemarin aku dengar Bu Ratna bilang halaman belakangmu sempit."
Mira tersenyum malu. "Iya."
Bu Rini menunjuk pagar bambu di samping rumah. "Kalau tanahnya sempit, coba tanam ke atas."
"Ke atas?"
"Pakai bambu."
"Buat rak sederhana."
"Kangkung sama bayam bisa."
Mata Mira langsung berbinar.
Ide itu...
Tidak membutuhkan uang.
Ia hanya memanfaatkan bambu bekas.
Di saat yang sama, layar sistem berkedip.
Petunjuk Misi Terdeteksi.
Solusi ditemukan.
Jantung Mira berdebar.
Berarti ia berada di jalur yang benar.
"Terima kasih banyak, Bu."
"Ah." Bu Rini tertawa kecil. "Aku cuma kasih ide. Kebetulan aku bawa beberapa potong bambu."
Mira menerima bambu itu dengan hati-hati.
Di dalam hati ia bersyukur memiliki tetangga seperti Bu Rini.
Siang hari Arman pulang sebentar untuk mengambil bekal.
Hari itu lokasi kerjanya tidak terlalu jauh.
Melihat bambu-bambu tersusun di halaman, ia bertanya, "Mau buat apa?"
"Aku kepikiran bikin rak tanaman."
Arman tampak tertarik. "Supaya lahannya bertambah."
"Iya."
Pria itu tersenyum. "Itu ide bagus."
"Nanti malam aku bantu."
Mira mengangguk. "Terima kasih."
Arman mengambil bekalnya lalu kembali bekerja.
Sebelum pergi, ia sempat melirik kebun kecil mereka. Daun-daun muda mulai terlihat lebih jelas. Pemandangan itu membuatnya semakin bersemangat bekerja.
Sore hari...
Raka pulang sekolah.
Tasnya masih tergantung di bahu.
Begitu melewati meja dekat pintu, ia berhenti. Bungkusan daun pisang yang tadi pagi ditinggalkan Mira masih ada di sana.
Belum disentuh.
Raka memandangnya beberapa saat. Lalu mengangkatnya perlahan. Saat membuka bungkus itu, nasi di dalamnya sudah dingin.
Namun masih rapi. Ia kembali membungkusnya. Tidak ada yang melihat ketika ia membawa bekal itu ke dapur.
Mira yang sedang mencuci sayur hanya melirik sekilas.
"Kamu sudah pulang?"
"Iya."
"Hari ini capek?"
"Biasa."
Keheningan kembali terjadi.
Raka meletakkan bungkusan itu di meja.
"Ibu."
"Hm?"
"Lain kali... tidak usah bikin terlalu pagi."
Mira menoleh.
Raka menggaruk tengkuknya dengan canggung. "Kalau siang begini sudah dingin."
Mata Mira membelalak.
Anaknya...
Tidak menolak bekal itu. Ia hanya meminta dibuat lebih dekat dengan jam berangkat.
Baik. Itu berarti, besok ia akan membawanya.
"Tentu." Mira tersenyum hangat. "Besok Ibu buat yang masih hangat."
Raka hanya mengangguk sebelum masuk ke kamarnya.
Begitu pintu kamar tertutup, layar sistem muncul.
Kepercayaan Anak Sulung
3% →5%
Mira menutup mulutnya agar tidak menangis. Ternyata benar. Yang dibutuhkan Raka bukan kata-kata.
Melainkan bukti.
Malam tiba.
Seperti janji Arman, mereka mulai membuat rak sederhana dari bambu bekas.
Raka yang awalnya hanya melihat dari jauh akhirnya ikut memegang tali.
"Ikatnya di sini."
Arman mengajarinya.
"Iya."
Lila bertugas mengambil pot kecil yang terbuat dari botol plastik bekas.
Sementara Mira memotong tali rafia.
Untuk pertama kalinya, keempat anggota keluarga bekerja sama mengerjakan sesuatu.
Walau masih sedikit canggung.
Rak sederhana itu akhirnya berdiri di samping dinding rumah. Tidak terlalu besar. Namun cukup untuk menambah tempat beberapa tanaman.
Layar sistem kembali muncul.
Misi Khusus Selesai.
Pengguna berhasil menemukan cara memperluas lahan tanpa mengeluarkan uang.
Hadiah: Peti Hadiah Perunggu.
Sebuah peti kayu kecil berwarna perunggu muncul di hadapan Mira.
Tentu saja hanya dirinya yang bisa melihatnya.
Jantung Mira berdebar. Ia menyentuh peti tersebut.
Apakah ingin membuka Peti Hadiah Perunggu?
Ya / Tidak
Mira memilih Ya.
Peti itu perlahan terbuka.
Cahaya keemasan memancar dari dalamnya.
Beberapa detik kemudian muncul tulisan.
Selamat.
Anda memperoleh:
Pupuk Organik Premium x5
Mempercepat pertumbuhan tanaman sebesar 30%.
Mata Mira berbinar.
Hadiah itu jauh lebih berguna daripada yang ia bayangkan. Namun sebelum sempat merasa terlalu senang, sistem kembali memberikan pemberitahuan baru.
Peringatan.
Jangan terlalu bergantung pada hadiah sistem.
Keberhasilan tetap ditentukan oleh kerja keras pengguna.
Mira tersenyum kecil.
"Aku tahu."
Ia memang berubah. Tetapi bukan karena hadiah. Melainkan karena setiap hari ia mulai menemukan alasan baru untuk bangun pagi.
Alasan itu bukan lagi dirinya sendiri.
Melainkan keluarga yang perlahan mulai membuka pintu hati mereka.
Saat ia hendak masuk rumah, Raka tiba-tiba memanggil dari belakang.
"Bu."
Mira menoleh cepat. "Ada apa?"
Remaja itu tampak canggung. Tatapannya mengarah ke rak bambu yang baru selesai dibuat.
"Besok... aku pulang sekolah lebih cepat."
"Hah?"
"Aku bantu pasang potnya."
Mira membeku beberapa detik. Sebelum akhirnya mengangguk sambil menahan air mata.
"Baik."
Raka masuk ke rumah tanpa menunggu jawaban lain.
Namun senyum tipis yang sempat muncul di sudut bibirnya tidak luput dari pandangan Mira.
Mungkin…
Luka di hati anak sulungnya memang belum sembuh. Tetapi retakan kecil itu akhirnya mulai ditutup oleh harapan baru.