Sistem Penukar Kenangan

Kecelakaan yang Mengubah Takdir

Hujan turun sejak sore, langit yang semula cerah perlahan berubah gelap, awan hitam menggantung rendah di atas Kota Serang, menutupi cahaya matahari yang tersisa, jalanan mulai basah oleh air hujan, sementara kendaraan berlalu-lalang dengan lampu yang menyala lebih awal dari biasanya.

 

Arya Pratama mengendarai sepeda motornya dengan kecepatan sedang, pemuda berusia tujuh belas tahun itu baru saja pulang dari sekolah setelah mengikuti kegiatan tambahan yang membuatnya terlambat pulang, tas ransel hitam tergantung di punggungnya, sementara seragam putih abu-abunya tampak sedikit kusut dan basah terkena tempias hujan.

 

Meski lelah, suasana hatinya cukup baik, besok adalah hari libur, yang berarti ia bisa tidur lebih lama tanpa harus bangun pagi dan mendengarkan suara alarm yang selalu berhasil merusak mimpinya.

 

Ponsel di saku celananya tiba-tiba bergetar, Arya melirik layar dan tersenyum kecil ketika melihat nama yang muncul.

Ibu.

 

Ia segera mengangkat panggilan itu.

"Assalamualaikum, Bu."

 

"Waalaikumsalam. Arya, kamu sudah pulang sekolah?" tanya suara hangat dari seberang.

 

"Iya, Bu. Ini lagi di jalan, mungkin setengah jam lagi sampai rumah kalau hujannya nggak tambah deras."

"Kamu bawa jas hujan, kan?"

 

Arya tertawa kecil. "Tenang saja, Bu. Aku bukan anak kecil lagi."

 

"Justru karena kamu merasa bukan anak kecil lagi, Ibu makin khawatir. Anak SMA biasanya merasa sudah dewasa, padahal masih sering lupa makan, lupa istirahat dan suka ngebut kalau di jalan."

 

Arya menggeleng sambil tersenyum, kalimat itu sudah sering ia dengar, tetapi entah kenapa tidak pernah terasa membosankan.

 

"Beneran kok, Bu. Aku pelan-pelan."

"Tadi makan siang?"

"Sudah."

"Makan apa?"

"Nasi goreng."

"Dengan sayur?"

 

Arya langsung terdiam beberapa detik. "Itu..."

"Nggak pakai sayur, ya?"

Arya terkekeh pelan. "Sedikit."

"Dua helai daun bawang bukan sayur."

 

"Bu, kok tahu?"

Karena itu memang kebiasaan Arya. Ia selalu menghindari sayuran jika bisa memilih.

 

Ibunya tertawa kecil, suara tawa itu selalu membuat Arya merasa tenang, sejak ayahnya meninggal lima tahun lalu karena sakit, hanya ibunyalah yang menjadi keluarga sekaligus tempat pulangnya, tidak peduli seberapa buruk hari yang ia lalui, mendengar suara wanita itu selalu membuat semuanya terasa lebih ringan.

 

"Kamu cepat pulang, ya."

"Iya."

"Ibu masak ayam kecap."

Mata Arya langsung berbinar. "Serius?"

 

"Iya. Tadi siang Ibu beli ayam karena tahu kamu suka."

 

"Wah, mantap, berarti malam ini aku nambah dua piring."

"Dua piring boleh. Tiga piring jangan. Nanti perutmu sakit."

 

Arya tersenyum lebar. Untuk sesaat, ia merasa hidupnya baik-baik saja. Tidak sempurna, tetapi cukup. Ia memiliki ibu yang menyayanginya, beberapa sahabat yang selalu ada, dan mimpi sederhana untuk lulus sekolah lalu melanjutkan kuliah suatu hari nanti.

"Ya sudah, hati-hati di jalan."

"Iya, Bu."

"Jangan ngebut."

"Iya, Bu."

"Kalau hujan makin deras, menepi dulu."

"Iya, Bu."

"Kalau—"

"Iya, Bu."

 

Ibunya tertawa mendengar jawaban cepat itu. "Dasar anak satu ini."

"Assalamualaikum."

"Waalaikumsalam."

 

Panggilan berakhir. Arya memasukkan kembali ponselnya ke saku tanpa menyadari bahwa percakapan sederhana itu kelak akan menjadi salah satu kenangan paling berharga yang perlahan menghilang dari hidupnya.

 

Ia menarik napas panjang. Aroma tanah basah yang khas setelah hujan memenuhi udara. Meski cuaca sedang tidak bersahabat, entah mengapa perasaannya terasa cukup ringan hari itu.

 

Lampu-lampu toko di sepanjang jalan mulai menyala satu per satu. Beberapa pedagang kaki lima tampak sibuk menutup lapak mereka agar tidak kebasahan. Di halte dekat persimpangan, beberapa pelajar masih menunggu angkutan umum sambil berdesakan menghindari hujan.

 

Arya melirik jam di pergelangan tangannya.

 

Pukul 17.42.

 

Kalau tidak ada kendala, ia akan sampai rumah sebelum magrib.

 

Pikirannya langsung melayang pada ayam kecap yang disebut ibunya tadi. Sejak kecil, itu adalah makanan favoritnya. Bahkan ketika kondisi ekonomi keluarga sedang sulit setelah ayahnya meninggal, ibunya selalu berusaha memasakkan makanan kesukaannya pada hari-hari tertentu.

 

Kenangan tentang ayahnya muncul begitu saja.

 

Sudah lima tahun berlalu sejak pria itu meninggal karena penyakit yang dideritanya, namun Arya masih bisa mengingat dengan jelas bagaimana ayahnya selalu mengajaknya naik sepeda setiap Minggu pagi, mengajarinya memancing, dan sesekali membelikannya es krim sepulang sekolah.

 

Meski waktu terus berjalan, ada beberapa kenangan yang rasanya tidak akan pernah pudar.

 

Setidaknya itulah yang Arya pikirkan saat ini.

 

"Kalau Ayah masih ada, pasti beliau bakal marah lihat aku kehujanan begini," gumamnya pelan sambil tersenyum.

 

Ia memperlambat laju motor ketika melewati lampu merah. Saat menunggu lampu berubah hijau, ponselnya kembali bergetar.

 

Kali ini sebuah pesan masuk dari grup pertemanannya.

 

Dimas mengirim foto dirinya yang sedang makan bakso jumbo.

 

Arya terkekeh membaca pesan yang menyertainya.

 

Dimas: Gue makan duluan, kalau besok mati, tolong bilang ke dunia kalau gue meninggal dalam keadaan kenyang.

 

Tak lama kemudian pesan lain muncul.

 

Naila: Kalau mati karena kebanyakan makan, itu bukan mati syahid, Dim.

 

Dimas: Minimal mati bahagia.

 

Arya menggeleng sambil tersenyum, teman-temannya memang aneh.

Namun justru karena itulah ia betah bersama mereka.

 

Dimas sudah menjadi sahabatnya sejak SMP, sementara Naila adalah teman masa kecil yang rumahnya hanya berjarak beberapa gang dari rumah Arya.

 

Mereka bertiga hampir selalu bersama, belajar bersama, bermain bersama bahkan pernah dihukum bersama karena terlambat masuk kelas.

 

Arya mengetik balasan singkat.

 

Arya: Simpan satu mangkuk buat gue.

 

Pesan itu langsung dibalas beberapa detik kemudian.

 

Dimas: Datang sekarang kalau mau.

 

Arya: Males. Di rumah ada ayam kecap.

 

Dimas: Pengkhianat.

 

Senyum Arya semakin lebar.

 

Tanpa disadari, momen sederhana seperti inilah yang sebenarnya membuat hidup terasa berharga, bukan pencapaian besar atau keberhasilan luar biasa, melainkan obrolan receh dengan orang-orang yang selalu ada di sekitarnya.

 

Sayangnya, tidak semua hal berharga akan bertahan selamanya.

 

Terkadang seseorang baru menyadari nilai sebuah kenangan ketika kenangan itu mulai menghilang.

 

Dan takdir sedang mempersiapkan sesuatu yang bahkan tidak pernah terbayangkan oleh Arya.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!