Sistem Penukar Kenangan
Gadis yang Melihat Statusku
Malam semakin larut.
Hujan yang sejak sore mengguyur Kota Serang akhirnya mulai reda. Hanya tersisa gerimis tipis yang menempel di kaca jendela rumah sakit. Lampu-lampu kota terlihat samar dari lantai tempat Arya dirawat.
Namun pikirannya jauh dari kata tenang sejak pertarungan melawan Shadow Ghoul berakhir beberapa jam lalu, Arya tidak bisa memejamkan mata.
Terlalu banyak hal yang terjadi dalam satu malam, terlalu banyak hal yang belum bisa ia pahami. Ia duduk di tepi ranjang sambil menatap foto lama yang berada di tangannya.
Foto dirinya bersama ayahnya, foto yang kini terasa asing. Arya tahu siapa pria di dalam foto itu. Ia tahu pria itu adalah ayahnya. Namun setiap kali mencoba mengingat hari ketika foto tersebut diambil, yang muncul hanya kehampaan.
Seperti membuka lemari yang seharusnya penuh barang, tetapi ternyata kosong melompong.
Tidak ada suara tawa. Tidak ada percakapan. Tidak ada perasaan hangat. Semuanya hilang.
"Aku bahkan tidak ingat apa yang terjadi hari itu."
Suara Arya terdengar pelan. Aether yang melayang di dekat jendela menoleh.
"Kenangan tersebut telah dihapus."
"Kenapa harus kenangan bahagia?"
Pertanyaan itu keluar begitu saja. Sejak tadi ia terus memikirkannya.
Jika sistem memang membutuhkan harga, mengapa harus kebahagiaan? Mengapa bukan rasa sakit? Mengapa bukan kesedihan?
Aether terdiam beberapa saat. "Lingkup informasi tersebut masih terkunci."
"Lagi-lagi terkunci." Arya tertawa hambar.
Rasanya hampir semua jawaban yang ia butuhkan selalu berakhir dengan kalimat yang sama.
Terkunci, rahasia tidak tersedia. Seolah sistem sengaja membuatnya berjalan dalam kegelapan.
"Aether."
"Hm?"
"Kalau aku terus naik level..."
Arya menelan ludah. "Apa semua kenanganku akan hilang?"
Ruangan mendadak sunyi bahkan suara gerimis di luar terasa menghilang.
Aether tidak langsung menjawab dan justru itu yang membuat Arya semakin takut.
"Jawab aku." Gadis kecil itu menatapnya.
Mata birunya yang biasanya tenang terlihat sedikit berbeda. "Ada kemungkinan seperti itu."
Jantung Arya terasa diremas, kemungkinan? Bukan berarti pasti.
Tetapi juga bukan berarti tidak mungkin. Ia menundukkan kepala, tangannya mengepal kuat.
Bayangan ibunya kembali muncul dalam pikirannya. Kalau suatu hari nanti ia melupakan suara ibunya,
Melupakan wajah ibunya, melupakan semua kenangan yang mereka miliki lalu apa yang tersisa dari dirinya?
"Apa aku masih akan menjadi diriku sendiri?"
Pertanyaan itu keluar tanpa sadar. Aether tidak menjawab. Karena mungkin tidak ada jawaban yang benar.
Keesokan paginya, sinar matahari masuk melalui jendela rumah sakit.
Untuk pertama kalinya setelah beberapa hari, cuaca terlihat cerah.
Arya baru saja selesai sarapan ketika pintu kamar terbuka. "Ibu!"
Wajah Arya langsung sedikit cerah. Ibunya masuk sambil membawa tas plastik berisi buah-buahan.
Wanita itu tersenyum hangat. "Bagaimana keadaanmu hari ini?"
"Sudah jauh lebih baik."Alhamdulillah."
Ibunya duduk di kursi samping ranjang. Seperti biasa, tangannya langsung menyentuh kening Arya. Memastikan suhu tubuh anaknya baik-baik saja.
Gestur sederhana yang sudah dilakukan sejak Arya kecil dan entah kenapa membuat dadanya terasa hangat.
Arya memperhatikan wajah ibunya kerutan halus di sekitar mata.
Rambut yang mulai memutih wajah yang tampak sedikit lelah. Tiba-tiba muncul rasa takut yang sulit dijelaskan.
Bagaimana kalau suatu hari nanti aku melupakan wajah ini? Bagaimana kalau sistem mengambil semuanya?
Ia buru-buru mengalihkan pikiran tersebut. Tidak.
Ia tidak boleh memikirkannya sekarang. "Nanti kalau dokter sudah mengizinkan, kita pulang."
Arya mengangguk. "Baik, Bu."
Ibunya tersenyum namun beberapa detik kemudian ekspresi wanita itu berubah bingung. "Arya."
"Iya?"
"Ingat tidak waktu ayahmu mengajak kita ke Anyer?"
Arya membeku. Jantungnya berdegup lebih cepat. Anyer? Ia tahu tempat itu. Namun...
Kenangannya samar sangat samar. "Aku..."
Ibunya tertawa kecil. "Dulu kamu malah nyemplung ke laut karena terlalu semangat mengejar layang-layang."
Arya memaksakan senyum. Padahal di dalam hatinya mulai muncul kepanikan. Ia tidak ingat sama sekali tidak ingat.
Kenangan itu seharusnya lucu seharusnya jelas. Namun yang tersisa hanya kabut untungnya ibunya tidak menyadari perubahan ekspresinya. Wanita itu terus bercerita sambil tertawa kecil.
Sedangkan Arya hanya bisa diam, ketakutan yang sebelumnya hanya berupa dugaan kini perlahan menjadi kenyataan. Kenangannya benar-benar mulai hilang. Siang hari.
Dokter akhirnya mengizinkan Arya pulang. Secara fisik, kondisinya jauh lebih baik dibanding yang seharusnya.
Bahkan hasil pemeriksaan membuat para dokter bingung. Luka-luka yang seharusnya membutuhkan waktu berminggu-minggu untuk pulih justru hampir menghilang. Tentu saja Arya tidak bisa menjelaskan alasannya.
Bagaimana mungkin ia mengatakan bahwa tubuhnya diperkuat oleh sistem misterius?
Mereka pasti menganggapnya gila mobil yang ditumpangi Arya dan ibunya melaju perlahan menuju rumah.
Selama perjalanan, Arya hanya diam memandangi jalanan. Dunia terlihat normal orang-orang berjalan seperti biasa. Anak-anak bermain. Pedagang berjualan, tidak ada yang terlihat aneh.
Namun setelah mengetahui keberadaan Void, ia tidak bisa lagi melihat dunia dengan cara yang sama karena kini ia tahu.
Ada sesuatu yang hidup di balik bayang-bayang, sesuatu yang tidak bisa dilihat manusia biasa.
Dan sesuatu itu sedang mengincarnya, sore harinya. Arya memutuskan berjalan keluar rumah.
Ia membutuhkan udara segar, pikirannya terlalu penuh. Ia berjalan menuju taman kecil dekat kompleks perumahan.
Tempat yang sering ia kunjungi sejak kecil. Beberapa anak sedang bermain, beberapa orang tua duduk di bangku taman, semuanya tampak damai.
Sampai seseorang memanggilnya. "Kau pengguna sistem, bukan?"
Arya langsung berhenti, tubuhnya menegang perlahan ia menoleh.
Seorang gadis berdiri beberapa meter di belakangnya. Usianya sekitar tujuh belas tahun rambut hitam panjang, mata tajam.
Memakai seragam SMA yang sama dengannya. Namun Arya yakin tidak pernah melihat gadis itu sebelumnya. "Apa?"
Gadis itu mendekat. Tatapannya tidak pernah lepas dari Arya.
Lalu sesuatu yang membuat darah Arya terasa dingin terjadi. Gadis itu menatap ruang kosong di samping Arya.
Tepat ke arah Aether. "Kau bahkan memiliki pendamping sistem."
Mata Arya membelalak, dia bisa melihat Aether.
Gadis itu tersenyum tipis. "Jadi aku benar."
"Siapa kau?" Alih-alih menjawab, gadis itu justru berkata pelan. "Level dua."
Arya membeku. "Itu..."
"Statusmu terlihat jelas."
Untuk pertama kalinya sejak sistem muncul, Arya bertemu seseorang yang memahami apa yang sedang terjadi.
Dan entah kenapa. Hal itu justru membuatnya semakin waspada. "Aku tanya sekali lagi."
Arya menatap gadis itu tajam. "Siapa kau?"
Gadis itu terdiam sesaat lalu mengulurkan tangannya. "Namaku Naila Azzahra."
Arya mengernyit. "Aku pengguna sistem juga."
Kalimat itu membuat dunia seakan berhenti beberapa detik. Jadi benar, ia tidak sendirian, ada orang lain.
Orang lain yang mengalami hal yang sama. Namun ekspresi Naila tiba-tiba berubah serius sangat serius.
Tatapannya tertuju langsung ke mata Arya. "Dan kalau kau ingin tetap hidup..." Suaranya terdengar pelan.
Namun cukup untuk membuat bulu kuduk Arya berdiri. "Jangan terlalu sering naik level."
Arya membeku. "Apa maksudmu?"
Naila tersenyum pahit. Senyum seseorang yang pernah kehilangan sesuatu yang sangat berharga.
Karena untuk pertama kalinya. Arya melihat kesedihan mendalam di mata gadis itu.
Dan ia tahu, Naila pasti memahami harga mengerikan dari sistem ini lebih baik daripada dirinya.