The Quest for The Lost Inheritors

Serangan Pertama di Kota Manusia

Tepat di hari ketiga sebelum memasuki Kota Vôld para Oroizé menemui Kolé. Di mana sang raja sudah satu setengah jarak perjalanan dan akan tiba di kota manusia tersebut, bersama pasukannya. Begitu melihat kedatangan pada Oroizé, Kolé menghentikan dulu langkah semua pasukan, dan meminta semua beristirahat untuk beberapa saat.

Setelah itu para Oroizé segera berkumpul di satu tempat yang agak jauh dari kumpulan pasukan yang lain. Yang datang pun hanya dua dari mereka, sengaja datang untuk memberitahukan kepada Kolé mengenai situasi di kota di Kota Vôld. Sedangkan ketiga sisanya, masih berada di luar kota manusia tersebut.

Mereka masih menyekap keluarga Ron agar keluarga itu tidak melarikan diri dan para Oroizé sengaja tidak menghabisi keluarga Ron, karena mereka masih membutuhkan sosok manusia-manusia untuk dijadikan kedok mereka.

Kolé melangkah ke sebuah ceruk yang berada di dataran lebih tinggi bersama para Oroizé, sengaja Kolé menjauh agar tidak ada yang mencuri dengar pembicaraannya dengan Oroizé. Mata Kolé memerhatikan sekeliling sejenak, di mana para prajurit lain beristirahat sejenak, untuk mempersiapkan serangan mereka menuju Kota Vôld. Paling cepat dan lebih tepatnya, hari esok di malam hari.

“Lalu apa yang kalian temukan di kota manusia itu?” tanya Kolé.

Salah satu dari dua sosok Oroizé yang datang menemui Kolé mengatakan cukup panjang lebar,

“Kota manusia itu cukup besar, dinding-dindingnya tinggi, benteng-bentengnya kokoh siapa pun akan sulit untuk menyerang kota. Lalu kota itu pun dikelilingi oleh danau cukup dalam, sehingga jika ingin menyerang kota mereka yang paling utama adalah mengeringkan danaunya. Juga menghancurkan ketapel-ketapel raksasa yang mereka tempatkan di dinding-dinding benteng.”

“Selain itu apa ada yang harus aku ketahui lagi?” Kolé lagi-lagi bertanya.

Oroizé lainnya mengiyakan, seraya berkata, “Kami mendengar kabar ada sosok wanita yang bukan manusia mendatangi Kota Vôld. Kami pikir itu adalah adegazi Yähgé, akan tetapi rupanya bukan. Melainkan elf yang disekap oleh panglima Gôntra. Dia melarikan diri, dan datang ke kota untuk memperingatkan manusia di sana, akan kedatangan bangsa kita.”

Kolé mengangguk-angguk. “Sepertinya manusia sudah siap-siap untuk mendapatkan serangan dari bangsa kita. Kuharap ini akan akan menjadi perang yang sepadan.”

“Oh, tidak, Adegaz. Para manusia tidak mempercayai perempuan elf ini. Dengan mata kepala kami sendiri, kami melihat dia sedang diadili dan dipermalukan di depan semua rakyat kota tersebut,” balas Oroizé dengan suara berbisik. “Tentu saja, ini akan menjadi keuntungan bagi kita, bahwa manusia-manusia itu tidak menyadari akan bahaya dan teror yang akan kita sebarkan di sana.”

“Rasanya sedikit aneh, perempuan elf ini lolos di saat yang bersamaan bersama Gôntra dan Yähgé. Firasatku mengatakan kedua adikku masih belum jauh,” gumam Kolé. “Entah ada hubungan apa mereka, hanya saja aku tetap tak ingin kita menganggap remeh keduanya.”

Sang Oroizé pun mengangguk mengiyakan. “Memang benar, itu adalah perempuan elf yang bersama panglima Gôntra, meski sepertinya antara panglima dan perempuan tersebut mereka saling membenci. Jika sang perempuan elf berada di kota manusia, keyakinan kami adalah panglima Gôntra dan adegazi Yähgé mereka sudah melarikan diri ke tanah air atau mencari tempat baru untuk bersembunyi.”

“Kembali ke tanah air, kurasa tidak. Mereka takkan berani menampakkan wajah mereka, akan tetapi jika bersembunyi kurasa iya. Yang pasti, kita harus tetap temukan mereka berdua. Karena mereka sudah membuat kericuhan juga membuat para petinggi di tanah air mulai meragukan kekuasaanku, jika kita tidak segera menangkap Yähgé dan Gôntra, kemungkinan besar kaum-kaumku akan mulai mencari pengganti aku secara paksa dan itu jangan sampai terjadi,” kata Kolé panjang lebar.

“Lalu apa yang harus kami lakukan sekarang? Mencari adegazi Yähgé dan panglima Gôntra? Atau memastikan para manusia benar-benar lengah?” tanya salah satu Oroizé.

“Jika memungkinkan carilah keduanya. Meskipun aku tidak tahu mereka apa bertahan juga kah, di Kota Vôld. Akan tetapi hatiku mengatakan tidak, karena Yähgé cukup pintar. Dia pasti sudah mencari tempat perlindungan baru agar tidak tertangkap oleh kita semua,” jawab Kolé.

“Lalu bagaimana dengan perempuan elf itu? Apa kami harus menghabisinya?”

Kolé menggeleng. “Dia akan ikut mati bersama penduduk Kota Vôld. Jadi biarkan saja dia dipermalukan oleh penduduk di sana. Aku yakin dia pasti menyesali karena sudah memberitahukan kepada manusia yang dipercayainya, akan tetapi rupanya manusia berkhianat kepada bangsa elf.

“Hah, tidak bisa kubayangkan betapa sakit hatinya dia setelah kotanya hancur, dan kini dia pun tidak memiliki aliansi dari mana-mana. Akan tetapi, pastikan dia ikut tewas di peperangan kita selanjutnya. Sebaiknya kita pun harus segera menghabisi dia, karena ada kemungkinan jika dia selamat, dia akan mencari si pemilik kekuatan besar itu. Karena itu, pastikan dia tidak lolos dalam peperangan esok malam.”

“Baik, Adegaz,” ucap para Oroizé itu dengan kompak.

Lalu Kolé kembali bergabung dengan pasukannya, di mana para Oroizé langsung pergi dan mencelat ke atas pepohonan. Secepat langkah mereka hendak kembali ke Kota Vôld, untuk mengawasi keadaan di sana begitu pasukan Kolé datang ke kota.

Kolé pun menitahkan semua pasukannya agar mereka segera meneruskan langkah. Sepanjang perjalanan menuju kota manusia, Kolé berpikir jika memang dia harus melakukan ini semua tidak ada lagi kata untuk mundur. Bukankah sudah sejak lama dia menginginkan adanya pengakuan dari bangsa-bangsa lain?

Ketika kota manusia hancur, kota nymph air, dryad, bangsa dwarf pun musnah, maka yang perlu Kolé lakukan setelah itu adalah menghancurkan para Len’ Arna. Entah apa itu mustahil atau tidak, tapi Kolé harus mencari di mana para Len’ Arna berada. Karena, jika Len’ Arna tidak dihancurkan, kemungkinan besar para makhluk yang konon disebut makhluk ajaib ini, akan menciptakan kekuatan baru. Yang mungkin bisa menandingi kekuatan Kolé sekarang. Dia harus mencegah itu terjadi.

Pasukan pun terus melangkah di keremangan malam, hingga waktunya tiba untuk melepaskan serangan mereka.

*

Sementara itu di Kota Vôld, Ninye yang masih terikat pada tiang hanya tertunduk lemah, dan sama sekali tak mendongakkan kepalanya. Di sekitar tubuh Ninye, tampak berserakan sayur-sayuran busuk, juga sampah lainnya. Rupanya para penduduk melempari Ninye, karena merasa kedatangan Ninye merupakan sebuah kutukan bagi penduduk kota. Dan lebih banyak, karena penduduk terprovokasi oleh berbagai berita yang berseliweran sepanjang kota.

Tanpa diberi air, tanpa diberi makan, Ninye dibiarkan begitu saja bak tontonan penduduk. Rasanya Gôntra ingin naik saja langsung ke atas panggung. Melepaskan Ninye, lalu membuka kedoknya sendiri bahwa dia adalah bangsa dëia, di mana tak lama lagi bangsanya pun akan menghancurkan Kota Vôld.

Gôntra sudah tak tahan lagi melihat kondisi Ninye tersebut. Dia memperhatikan perempuan elf itu dari kejauhan, akan tetapi tak bisa melakukan apa-apa. Karena Yähgé melarang Gôntra untuk berbuat gegabah. Yähgé mengatakan, bahwa bangsa dëia telah melepaskan mata-mata ke kota manusia tersebut. Yang diduga oleh Yähgé adalah para Oroizé.

Begitu Yähgé datang ke penginapan, setelah seharian penuh entah pergi ke mana, Gôntra langsung menunjukkan protesnya.

“Aku akan melepaskan Ninye, malam ini juga,” begitu yang diucapkan oleh mantan panglima bangsa dëia itu. Dia menunjukkan gigi-giginya yang bergemelutuk. “Jika ini permainan bagimu, menurutku sudah selesai. Aku hanya ingin segera pergi sebelum pasukan kakakmu datang ke kota ini.”

“Nah, nah … kenapa tiba-tiba kau semurka ini padaku? Kita akan segera pergi dari kota ini, segera. Tidak perlu menunjukkan kemarahanmu. Tapi alasanku sangat kuat. Ada para Oroizé di luar sana.”

“Aku bisa mengalahkan mereka,” gerutu Gôntra.

“Tidak. Kita pergi dari kota ini, menyelinap.”

“Apa yang kau inginkan sebetulnya? Sebuah pertunjukan? Semakin cepat kita pergi dari kota ini, semakin kita terhindar masalah dengan Kolé. Jika kau masih bersikeras dengan keinginanmu itu, aku akan pergi, kita berpisah perjalanan pun tidak menjadi masalah bagiku.”

Jika Gôntra sudah marah seperti itu, maka takkan mungkin bagi Yähgé membujuk atau memberi opsi yang lain. Mau tak mau, kali ini Yähgé mengikuti keinginan Gôntra. Tidak menyenangkan berpetualang sendiri tanpa seorang teman. Selama ini, Gôntra sudah menjadi teman yang baik, meski Yähgé tak mau mengakuinya.

Ada embusan napas berat terdengar dari sudut bibir Yähgé. “Baiklah, kita pergi malam ini.”

“Aku akan melepaskan Ninye.”

“Itu urusanmu, jangan memaksaku untuk membantu kalian berdua.”

“Tidak masalah.”

Di luar jendela, tampak langit memerah dan sinar mentari mulai redup, waktunya untuk berganti malam. Gôntra sudah bersiap-siap untuk keluar dari penginapan, dan menyelamatkan Ninye begitu malam datang. Namun, di luar terdengar jeritan dan teriakan panik. Baik Gôntra dan Yähgé saling menatap satu sama lain.

“Ada apa?” tanya Gôntra.

“Jika dugaanku tak salah, kemungkinan besar … kakakku sudah tiba di kota ini.”

“Ini gila.”

“Terdengar menyenangkan di telingaku.” Yähgé terkekeh pelan.

Terdengar suara ledakan-ledakan yang memekakkan telinga, Gôntra dan Yähgé langsung keluar dari penginapan. Di jalanan, orang-orang saling bertabrakan karena panik, tangisan, semua semrawut kacau balau. Prajurit berlarian menuju garis depan, di mana mereka akan menahan serangan.

Gôntra berlari secepat mungkin ke tempat di mana Ninye ditahan. Tidak ada yang memperhatikan lagi tentang Ninye. Semua sibuk menyelamatkan diri masing-masing. Sang panglima langsung naik ke atas panggung dan melepaskan tali yang mengikat Ninye. Perempuan elf itu menatap nanar.

“Kau baik-baik saja, Ninye? Kita akan segera pergi dari sini,” ucap Gôntra.

“Siapa kau?”

“Ini aku. Gôntra.”

“Bagaimana kau bisa—”

“Kita akan bicarakan hal itu nanti, sekarang kita pergi selagi kita bisa,” potong Gôntra.

Yähgé menunggu tidak jauh dari sana. Orang-orang terkejut melihat Ninye terlepas, tapi mereka tidak ambil peduli lagi. Ketiganya berlari ke arah istana, di mana di ujung dari istana, ada gerbang besi di mana air mengalir dari luar.

“Semua orang berlari ke dalam istana,” ucap Gôntra. “Apa sebaiknya kita ikut masuk ke sana?”

“Tidak. Kita lewat jalan ini. Aku sudah memeriksanya, ini akan membawa kita segera keluar dari kota, meski harus berbasah-basahan sedikit,” sanggah Yähgé.

“Tetapi manusia di kota ini, bagaimana nanti nasib mereka?” gumam Ninye.

Mata Yähgé membelalak. “Kau masih memikirkan mereka, sedangkan kau sudah dipermalukan, Kuping Runcing? Pergilah jika kau ingin membantu, dan dipermalukan untuk kedua kalinya.”

Selama beberapa menit Ninye termenung. Apa yang dikatakan oleh Yähgé benar. Meski Gôntra dan Yähgé bangsa dëia, tetap Gôntra memperlakukan Ninye dengan baik. Namun, manusia yang jelas-jelas Ninye ingin bantu, malah memunggunginya. Kini mereka rasakan akibat dari tidak mendengarkan peringatan dari perempuan elf itu. Untuk apa Ninye membantu manusia lagi? Rasanya begitu sia-sia.

“Tidak.” Ninye menggelengkan kepalanya. “Kita lebih baik segera pergi.”

“Keputusan yang tepat,” seringai Yähgé.

Lalu dengan sihirnya, Yähgé membengkokkan besi-besi gerbang air tersebut, sehingga mereka bisa menyelinap keluar dari Kota Vôld yang sudah diserang oleh pasukan bangsa dëia.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!