Wajah Serupa Takdir Tak Sama

Mahkota di Atas Prahara

“Anda punya dua pilihan, Pak Baskoro: turun dari podium ini dengan sisa harga diri, atau keluar dari gedung ini dengan borgol di tangan.”

Suara Alina yang tenang namun tajam memotong kegaduhan di dalam ballroom yang masih remang. Pak Sulaiman dan anggota komite lainnya terpaku di tempat. Layar proyektor yang tadi menampilkan kerusuhan di luar, mendadak berubah menjadi deretan dokumen digital yang memperlihatkan aliran dana dari rekening cangkang milik Nusantara Corp ke seorang oknum di kementerian.

Baskoro, yang tadi sempat tertawa di kegelapan, kini wajahnya sepucat kertas. “Itu... itu fitnah! Jangan percaya pada kasir yang pandai mengedit dokumen ini!”

Alina melangkah maju ke bawah sorot lampu yang perlahan kembali menyala. Ia mengeluarkan sebuah diska lepas (*flashdisk*) berwarna merah dari sakunya. “Ini bukan editan. Ini adalah data asli dari peladen bank yang Anda gunakan untuk menyuap. Oh, dan soal pria berjaket *Wijaya Security* yang memprovokasi massa di luar? Dia adalah mantan karyawan kami yang Anda pecat dan Anda bayar pagi ini untuk memfitnah kami. Saya punya rekaman transaksinya.”

Ruangan itu mendadak sunyi sesenyap kuburan. Pak Sulaiman mendekati layar, menyesuaikan kacamatanya, dan menarik napas panjang. Integritas yang ia agung-agungkan baru saja dihina oleh Nusantara Corp di depan matanya sendiri.

“Pak Baskoro,” suara Pak Sulaiman terdengar berat. “Silakan tinggalkan ruangan ini sekarang juga. Tim hukum kementerian akan menindaklanjuti temuan ini. Dan untuk proyek Pelabuhan Merdeka...”

Beliau menoleh ke arah Alina dengan tatapan hormat yang tulus. “Wijaya Group bukan hanya menawarkan efisiensi dan kelestarian, tapi juga keberanian untuk membongkar borok di industri ini. Dengan ini, komite memutuskan: Pemenang tender Pelabuhan Merdeka adalah Wijaya Group.”

Tepuk tangan pecah di aula, namun Alina tidak merayakannya. Ia hanya mengangguk sopan, sementara di sudut ruangan, Wijaya berdiri dengan senyum kemenangan yang paling lebar yang pernah ia tunjukkan. Alya, di sisi lain, tampak lemas. Rencana pengkhianatannya tidak hanya gagal, tapi justru menjadi senjata bagi Alina untuk memojokkan lawan.

“Kamu luar biasa, Alina,” ucap Wijaya saat mereka berjalan menuju mobil mewah di lobi. “Aku tidak menyangka kamu menyimpan bukti suap itu sebagai kartu terakhir.”

“Saya belajar dari Bapak,” sahut Alina dingin sambil membuka pintu mobil. “Jangan pernah menyerang lawan jika Anda tidak punya peluru yang bisa menghancurkan seluruh pasukannya.”

Wijaya terkekeh, menepuk bahu Alina. “Hari ini kamu membuktikan bahwa darahku benar-benar mengalir kuat di nadimu. Sekarang, sesuai janji... mari kita selesaikan urusan aset itu di rumah.”

Sesampainya di kediaman mewah Wijaya, suasana terasa sangat formal. Pengacara keluarga, Pak Broto, sudah menunggu di ruang kerja dengan tumpukan dokumen tebal. Alya duduk di pojok ruangan dengan tatapan kosong, sementara Arya berdiri di dekat jendela, mengamati Alina dengan rasa bangga sekaligus cemas.

Wijaya duduk di kursi kebesarannya, menyesap wiski mahal. “Semuanya sudah siap, Broto?”

“Sudah, Tuan. Sesuai instruksi, dokumen pengalihan seluruh aset inti, saham mayoritas di sepuluh anak perusahaan, dan kepemilikan lahan di Jawa Barat sudah disusun atas nama Nona Alina Wijaya.”

Alina berdiri di depan meja, pulpen emas di tangannya terasa sangat berat. Ini bukan sekadar kepemilikan harta; ini adalah kunci untuk membebaskan ibunya dan menghancurkan kekuasaan Wijaya dari dalam.

“Tunggu!” Alya tiba-tiba berdiri. “Papa benar-benar memberikan semuanya pada dia? Bagaimana denganku? Aku sudah mengabdi bertahun-tahun di sini!”

Wijaya menoleh pada Alya dengan tatapan menghina. “Mengabdi? Kamu hampir menghancurkan tender terbesar kita karena kecemburuan butamu. Kamu tidak punya insting, Alya. Kamu hanya punya rasa haus akan perhatian. Mulai besok, kamu akan bekerja di bagian administrasi gudang di bawah pengawasan Alina. Itupun kalau dia masih mau mempekerjakanmu.”

Alya terisak, namun ia tidak berani membantah. Ia terduduk kembali, menyadari bahwa takhtanya telah benar-benar runtuh.

Alina mulai menandatangani lembar demi lembar dokumen tersebut. Setiap goresan tintanya terasa seperti memutus satu per satu rantai yang selama ini membelenggu hidupnya. Setelah lembar terakhir selesai, Pak Broto mengangguk.

“Selamat, Nona Alina. Mulai detik ini, Anda adalah pemilik tunggal Wijaya Group.”

Wijaya berdiri, mengulurkan tangannya pada Alina. “Selamat, putriku. Sekarang, apa rencana pertamamu sebagai penguasa baru?”

Alina menjabat tangan ayahnya—sebuah jabat tangan yang dingin dan penuh perhitungan. “Rencana pertama saya adalah membersihkan rumah ini dari orang-orang yang tidak kompeten, Pak. Dan rencana kedua... adalah mengumumkan bahwa Shinta Mandiri, ibu saya, masih hidup dan akan menjadi komisaris utama di perusahaan ini.”

Gelas wiski di tangan Wijaya terjatuh dan pecah di lantai marmer. “Apa kamu bilang? Kamu... kamu membohongiku?”

“Bapak yang mulai berbohong dengan mengatakan Ibu sudah mati terbakar,” Alina melangkah maju, wajahnya kini hanya berjarak beberapa senti dari wajah Wijaya. “Saya sudah memindahkan semua aset ini ke yayasan independen yang tidak bisa Bapak sentuh lagi. Bapak sekarang hanyalah seorang konsultan di perusahaan ini. Tanpa suara, tanpa kekuasaan.”

Wijaya hendak berteriak memanggil penjaga, namun Arya melangkah maju sambil menunjukkan ponselnya. “Penjaga di luar sudah saya ganti dengan tim dari Alex, Pak Wijaya. Dan polisi sedang dalam perjalanan ke sini untuk menindaklanjuti bukti percobaan pembunuhan di rumah aman kemarin.”

Wijaya jatuh terduduk di kursinya. Naga yang selama ini berkuasa itu mendadak terlihat seperti pria tua yang renta dan tak berdaya. Ia melihat putri yang ia anggap "alat" telah bermutasi menjadi sosok yang jauh lebih berbahaya darinya.

Malam itu, Alina berdiri di balkon kamarnya, menatap ke arah laut lepas. Ia segera menghubungi nomor rahasia Alex di pulau asri.

“Alex... jemput Ibu sekarang. Bawa dia ke pelabuhan utama besok pagi. Katakan padanya, rumah kita sudah bersih. Tidak ada lagi yang perlu ditakuti.”

“Kamu berhasil, Harimau Kecil?” suara Alex terdengar penuh haru.

“Aku berhasil, Lex. Tapi harganya mahal. Aku harus menjadi seperti dia untuk mengalahkannya.”

Alina menutup teleponnya. Ia menoleh saat mendengar suara pintu terbuka. Alya berdiri di sana, membawa tas kecil. Ia tampak sudah lebih tenang, meski matanya masih sembab.

“Aku pergi, Alina,” ucap Alya pelan. “Aku tidak bisa tinggal di sini melihatmu menang. Aku benci fakta bahwa kamu lebih kuat dariku, tapi aku lebih benci fakta bahwa Ibu lebih menyayangimu.”

“Ibu menyayangimu, Al. Dia hanya ingin kamu menjadi dirimu sendiri, bukan menjadi boneka Papa,” sahut Alina. “Pergilah ke pulau itu. Temui Ibu. Mungkin di sana kamu bisa menemukan apa yang selama ini hilang dari jiwamu.”

Alya tertegun sejenak, lalu ia mengangguk tanpa sepatah kata pun dan berlalu pergi.

Alina kembali menatap kegelapan malam. Ia kini memiliki segalanya—uang, kekuasaan, dan perusahaan raksasa. Namun, saat ia melihat bayangannya di kaca jendela, ia melihat wajah yang sama dengan Wijaya; dingin, tegas, dan tak tersentuh.

Ia memenangkan perang ini, namun ia tahu, menjaga cahaya di dalam dirinya agar tidak padam oleh pekatnya kekuasaan adalah perjuangan yang baru saja dimulai. Di atas meja kerjanya, sebuah laporan baru masuk: Nusantara Corp tidak benar-benar hancur. Baskoro baru saja melarikan diri dari tahanan sementara, dan sebuah pesan singkat masuk ke ponsel Alina dari nomor tak dikenal.

*“Mahkota itu sangat serasi di kepalamu, Alina. Tapi ingat, semakin tinggi mahkotanya, semakin mudah lehermu untuk ditebas. Sampai jumpa di proyek berikutnya.”*

Alina tersenyum kecil. Ia meremas ponselnya dan membuangnya ke tempat sampah. Bagi seorang pesilat, ancaman bukanlah hal yang harus ditakuti, melainkan undangan untuk bertarung kembali.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!