Wajah Serupa Takdir Tak Sama

Bayangan yang Mengganggu

 

“Jangan mendekat.”

Suara itu dingin. Tegas. Menghentikan langkah Alina tepat di depan pintu rak minuman.

Alina mengangkat kepala perlahan. Dan seperti déjà vu yang menyakitkan—“Itu kamu lagi,” gumamnya pelan.

Alya berdiri di sana. Tegak. Anggun. Tak tersentuh.

“Harusnya aku yang bilang begitu,” balas Alya datar. “Tempat seperti ini ternyata terlalu bebas dimasuki siapa saja.”

Alina tertawa kecil.

“Tenang. Aku cuma mau beli obat, bukan mencuri lagi.”

Alya menyipitkan mata.

“Jadi kamu masih merasa itu tuduhan?”

“Karena memang itu tuduhan.” Alina mulai berani membalas.

“Bukti sudah ditemukan.”

“Bukti bisa ditaruh,” potong Alina cepat.

Hening sejenak. Tatapan mereka saling mengunci.

“Menarik,” Alya tersenyum tipis. “Sekarang kamu menuduh balik?”

“Kalau memang itu yang terjadi, kenapa tidak?”

Alya melangkah mendekat.

“Kamu pikir aku punya waktu untuk menjebak orang sepertimu?”

“Orang sepertiku?” Alina mengulang, nadanya naik. “Maksudmu orang miskin?”

“Aku tidak perlu menyebutkannya,” jawab Alya dingin. “Kamu sudah menunjukkannya sendiri.”

Alina mengepalkan tangan. Dihina miskin bukan hanya sekali. Namun orang yang memiliki wajah serupa dengannya yang mengatakan, rasanya seperti ditusuk ribuan jarum.

“Lucu,” katanya lirih. “Kita punya wajah yang sama… tapi kamu bicara seolah kita berasal dari planet yang berbeda.”

Alya terdiam sepersekian detik.

“Berhenti mengatakan itu.”

“Mengatakan apa? Fakta?”

“Itu bukan fakta,” tegas Alya. “Itu kebetulan.”

Alina melangkah lebih dekat.

“Kalau ini kebetulan… kenapa kamu tidak bisa berhenti melihatku?”

Deg.

Alya langsung memalingkan wajah.

“Aku tidak melihatmu.”

“Kamu sedang melakukannya sekarang.”

“Karena kamu berdiri di depanku.”

“Dan kamu terganggu.”

“Aku tidak—”

“Kamu terganggu,” potong Alina pelan, tapi menusuk. “Sama seperti aku.”

Hening. Suara hujan di luar terdengar makin jelas. Alya menghembuskan napas pendek.

“Aku tidak punya waktu untuk permainan psikologis murahan.”

“Ini bukan permainan,” balas Alina. “Sejak aku melihatmu… aku mulai mengingat sesuatu.”

Alya langsung menatapnya lagi. “Apa maksudmu?”

“Aku tidak tahu pasti,” jawab Alina jujur. “Tapi… ada nama. Ada suara. Ada seseorang yang pernah kupanggil…”

Ia menatap Alya dalam-dalam.

“Alya.”

Napas Alya tersendat. “Itu nama yang biasa,” katanya cepat.

“Tapi kenapa rasanya tidak biasa buatku?”

“Kamu yang aneh.”

“Dan kamu yang menyangkal.”

“Aku tidak menyangkal apa pun!”

“Kalau begitu jawab,” tantang Alina. “Pernah tidak kamu merasa… ada sesuatu yang hilang dalam hidupmu?”

Alya membeku. Satu detik. Dua detik. “Tidak.”

Jawaban itu cepat. Terlalu cepat. Alina tersenyum miring.

“Kamu bohong.”

“Aku tidak punya alasan untuk berbohong pada orang seperti kamu.”

“Kalimat itu lagi,” Alina menggeleng. “Kamu benar-benar suka merendahkan orang, ya?”

“Aku hanya realistis.”

“Realistis atau sombong?”

“Pilih kata yang kamu mau,” Alya mengangkat dagu. “Itu tidak akan mengubah posisi kita.”

“Posisi?” Alina terkekeh pahit. “Aku tahu posisiku. Yang aku tidak tahu… posisi kamu sebenarnya di mana.”

Alya mengernyit.

“Maksudmu?”

“Di hidupku,” jawab Alina pelan.

Hening.

Untuk pertama kalinya, Alya tidak langsung membalas. Dan itu cukup membuat Alina sadar—Ia mengenal sesuatu.

“Siapa kamu sebenarnya?” tanya Alina lagi.

“Aku Alya Maheswari.”

“Itu nama,” balas Alina. “Bukan jawaban.”

“Apa lagi yang kamu mau?”

“Kebenaran.”

Alya tertawa kecil.

“Kamu pikir hidup ini semudah itu? Tinggal minta, lalu dapat jawaban?”

“Tidak,” Alina menggeleng. “Tapi aku yakin… kebenaran itu tidak akan berhenti mengejar kita.”

Tatapan mereka kembali bertabrakan. Tegang. Panas. Tak terhindarkan.

Dan tepat saat itu—“Sepertinya aku datang di waktu yang tidak tepat.”

Suara pria itu masuk, memecah suasana. Alya langsung menoleh.

“Mas Arya.”

Alina menghela napas pelan.

“Lengkap sudah.”

Arya berjalan mendekat, matanya bergantian menatap mereka. “Kalian… lagi?”

“Bukan urusanmu,” jawab Alya cepat.

“Sepertinya jadi urusanku kalau ini terjadi di tempat umum,” balas Arya tenang.

Ia berhenti di antara mereka.

“Kenapa setiap kali aku melihat kalian… situasinya selalu seperti ini?”

“Karena dia suka membuat masalah,” kata Alya dingin.

Alina langsung menyahut,

“Karena dia suka menghakimi.”

Arya mengangkat alis.

“Menarik. Dua versi cerita.”

“Tidak ada versi,” potong Alya. “Faktanya jelas.”

“Fakta bisa dimanipulasi,” balas Alina.

“Kalau begitu buktikan.”

“Aku akan.”

Alya menyipitkan mata.

“Kamu terlalu percaya diri untuk seseorang yang baru saja dipecat.”

“Dan kamu terlalu tenang untuk seseorang yang mungkin menyembunyikan sesuatu.”

Hening. Arya menatap keduanya, lalu menghela napas.

“Oke,” katanya pelan. “Sekarang aku benar-benar penasaran.”

“Tidak perlu,” kata Alya cepat.

“Justru perlu,” balas Arya. “Karena ini… tidak normal.”

Ia menatap Alina. “Namamu siapa?”

“Alina.”

Arya mengangguk pelan.

“Dan kamu,” ia menoleh ke Alya, “Alya.”

“Jelas,” jawab Alya dingin.

Arya tersenyum tipis.

“Alina. Alya. Wajah sama. Situasi rumit.”

Ia menggeleng pelan.

“Ini terlalu rapi untuk disebut kebetulan.”

“Kalau kamu mau percaya teori aneh seperti dia, silakan,” kata Alya.

“Aku tidak percaya teori,” jawab Arya. “Aku percaya pola.”

Alina menatapnya. “Dan pola ini bilang apa?”

“Bahwa ada sesuatu yang belum kalian ketahui.”

Alya mendecak.

“Aku tidak tertarik.”

“Tapi aku tertarik,” kata Arya tenang.

Alina tersenyum kecil.

“Bagus. Setidaknya ada satu orang yang mau berpikir.”

Alya menatapnya tajam.

“Jangan merasa di atas angin.”

“Aku tidak di atas,” balas Alina. “Aku hanya tidak mau diinjak terus.”

“Aku tidak pernah menginjakmu.”

“Kamu baru saja melakukannya.”

“Kalau kamu merasa begitu, itu masalahmu.”

“Dan kalau kamu tidak merasa, itu masalahmu.”

Arya mengangkat tangan sedikit.

“Cukup.”

Keduanya langsung diam.

“Aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi,” lanjutnya, “tapi satu hal jelas—ini belum selesai.”

Alina menatapnya lurus.

“Ini baru mulai.”

Alya tersenyum dingin.

“Aku tidak akan terlibat lebih jauh.”

“Kamu sudah terlibat,” balas Alina.

“Tidak dengan pilihan.”

“Kadang kita tidak punya pilihan.”

Hening lagi. Lalu Alya mendekat satu langkah.

“Kamu dengar baik-baik,” bisiknya tajam. “Apa pun yang kamu pikir kamu temukan… itu tidak akan mengubah siapa kamu.”

Alina tidak mundur.

“Dan kamu dengar juga,” balasnya pelan. “Apa pun yang kamu sembunyikan… itu tidak akan selamanya aman.”

Tatapan mereka terkunci. Sekali lagi. Lebih dalam. Lebih tajam. Lebih berbahaya.

Arya memperhatikan dalam diam. Dan untuk pertama kalinya—ia yakin. Ini bukan sekadar pertemuan biasa. Ini awal dari sesuatu yang jauh lebih besar.

 

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!