Wanita Penghibur untuk Suamiku

Rindu Keluarga

"Tapi, Nau ...," belum sempat Abdi berkata tuntas, Naura dengan cepat memutar kursi rodanya, meninggalkan mereka tanpa menoleh sedikit pun.

 
Dirinya kini mengarah pada dua sahabatnya.
Dengan perasaan yang hancur. Air mata yang menetes deras di setiap lajuan kursi roda. 
 
Bram yang sudah sedari tadi menunggunya, segera berdiri saat melihat Naura penuh tangisan mengarah ke arah mereka. Kemudian memeluk Naura dengan hangat, "Mereka jahat, Bram!" ucap Naura yang akhirnya membalas pelukan Bram.
 
"Nau, hiduplah bersamaku. Tinggalkanlah pria itu, Aku masih sangat mencintaimu," ucap Bram dengan kedua tangan yang masih mendekap Naura.
 
"Maaf, Bram ... sekarang waktunya nggak pas untuk mengatakan hal pernikahan," sahut Naura sambil perlahan mendorong jauh tubuh Bram. 
 
Zoya mendekati Naura, membersihkan wajahnya dengan tisu. Wajah yang lusuh dipenuhi noda air mata. "Kau ini cantik, Nau ... janganlah berlarut mendalami kesedihan," ujar Zoya sambil meletakkan tisu itu kembali ke tasnya. 
 
"Aku mau pulang! Aku nggak mau melihat mereka lagi." 
 
"Makanlah sedikit, Nau ... lagi pula mereka sudah sedari tadi pergi saat kamu sibuk berpelukan dengan Bram." 
 
Zoya menyuapi satu takoyaki yang sudah tak panas lagi ke dalam mulut Naura, "Enak kan?" Naura hanya mengangguk cepat dengan air mata yang terus menetes. 
 
"Aku kangen keluargaku, Zoy. Aku capek hidup begini. Aku ngerasa saat aku kehilangan mereka, semuanya seakan berbalik 180 derajat." Suara Naura lemah sembari mengusap air matanya yang mengalir begitu deras.
 
Semenjak kematian keluarganya, hidup Naura seolah kehilangan harga diri. Semuanya terlihat saat Naura berada di keramaian, semua mata memandangnya seperti seonggok tulang kecil yang hanya pantas untuk di makan seorang anjing. 
 
Naura seperti dibawa kembali ke masa lalu, saat dirinya masih berada di tengah-tengah keluarganya. Dirinya begitu sangat bahagia. Tak ada yang kurang satu pun saat itu. Bahkan satu tetes air mata pun jarang sekali terjatuh, kalau bukan karena tetesan air mata bahagia.
 
Tetapi ... sekarang? Air mata itu seolah tiada hentinya semenjak sepeninggalan keluarganya. Dari pemakaman sampai sekarang. 
 
"Aku harus apa, Tuhan?" tanya Naura dalam hati.
 
Jauh dari lubuk hatinya, Naura rindu dengan keadaan seperti dulu. Suara ... pujian ... rengekan, bahkan kesalah pahaman kecil pada kakaknya pun Naura rindu. 
 
Tiba-tiba genggaman hangat membuat Naura terkejut seketika membuyarkan lamunannya, jari jemari Bram yang mencoba untuk menenangkan Naura. 
 
 
Kemudian Naura menatap dalam Bram, pria yang dulu pernah Naura cintai dengan setulus hati. Bagi Naura dulu Bram bukan hanya menjadi seorang kekasih, tapi juga sebagai seorang Kakak.
 
Tetapi itu dulu ....
 
Lagi-lagi kematian keluarganyalah yang menjadi penyebab semua kejadian saat ini. Kemudian Naura tersenyum ke arah Bram, tidak seperti tadi. Kali ini Naura lebih menghargai Bram dan menepis rasa perasaan bahwa dirinya adalah seorang istri. 
 
Memang seharusnya begini kan? Abdi pun kini tak pernah menghargai dirinya sedikit pun sebagai seorang istri, lantas sekarang? Mengapa dirinya harus repot memikirkan suami yang dengan sengaja telah menyakiti hatinya. 
 
Bram terlihat memberikan kode mengambil sendok dari tangan Zoya, kemudian menyuapi sesuap dessert ke dalam mulut Naura. Sedikit demi sedikit sembari Bram menatap Naura dengan perasaan cinta. Sampai dessert itu habis mereka tetap bertatapan seakan lupa yang baru saja terjadi.
 
"Udah keles main tatap menatap kaye begitu. Ini tuh di tempat umum, Lo berdua udah kaya anak SD baru pacaran." Zoya mendengus.
 
"Pulang yuk, Bram ...," ajak Naura, Bram pun menuruti ajakan nya itu.
 
Bram menaikkan Naura ke kursi depan, Naura pun tak menolaknya sama sekali. Dan fikiran Zoya saat ini pun senang melihat dua sahabatnya itu dekat kembali. Meskipun dirinya sadar, Naura sebenarnya tidak pantas bergaul dengan teman lelaki sedekat dan semesra ini. Tetapi melihat kejadian tadi Zoya malah ingin mendukung Naura untuk bercerai dengan suaminya.
 
Tring!!!
 
Di tengah lajuan mobil dan heningnya mereka, ponsel Naura berdenting kencang yang telah berhasil membuyarkan fikiran mereka masing-masing.
 
Naura melihat layar ponselnya, kemudian menelan ludah dengan gugup. Bram yang melihat raut wajah Naura langsung dengan cepat merebut ponselnya.
 
[Jadi gimana? Jadi untuk bercerai dengan Abdi? Akhirnya kali ini Ibu bisa bahagia mendengar perkataan dari mulutmu]
 
 Bram terperangah melihat isi chat WA dari mertua Naura.
 
Zoya yang kini penasaran pun langsung mengambil ponsel dari tangan Bram, kemudian dengan reaksi yang sama diperlihatkan oleh Zoya. 
 
Naura hanya bisa menunduk pilu, bagaimana juga dirinya hanya perempuan dengan hati yang lemah. Melihat suaminya bersenggama dengan wanita lain saja, hatinya hancur berkeping-keping. Lantas sekarang Mas Abdi malah meminta untuk menikahi gadis itu dan hal yang lebih menyakitkan adalah Ibu mertuanya senang dengan keadaan saat ini.
 
Dari pertama Naura dan Abdi menikah, memang mertuanya tidak pernah sekali pun menyukainya. Masalah demi masalah selalu datang menimpa rumah tangganya, meski tidak langsung mertuanya yang berbuat. Tetapi Naura yakin mertuanyalah dalang dari semua masalah itu. Tapi kala itu Abdi masih mencintainya, semua masalah mereka hadapi bersama. Sampai masalah itu tuntas dengan sendirinya.
 
Tetapi ... saat ini Naura tahu, suaminya tidak lagi seperti dulu. Di matanya hanyalah Aqila dan Aqila. Hidupnya sudah dipenuhi Nafsu belaka! 
 
Naura menarik napas, kemudian membuangnya perlahan. Lalu membalikkan tubuhnya ke arah Zoya. "Sini Zoy, ponselnya," pinta Naura. Zoya pun memberi ponselnya dengan tatapan nanar.
 
Naura melihat kembali layar ponselnya, kini dirinya meremas dengan kuat. Perasaan sakit dan benci, yang sekarang terlintas di benaknya. Kemudian Naura memasang raut wajahnya dengan senyuman dingin penuh dendam, mengarah ke depan. 
 
Bram yang duduk berdampingan dengan Naura, bergidik melihat senyuman itu. Baru kali ini dirinya melihat senyum kebencian, dari wanita yang selama bertahun-tahun dia cintai.
 
"Nau, sabar ... Aku dan Zoya pasti bakalan ngebantu, apapun yang terjadi. Nanti kita fikirin bareng-bareng ya," ujar Bram mencoba menenangkan Naura. Dengan tangan yang mengelus lembut rambut wanita di samping nya itu.
 
"Aku capek ... Bram, semenjak menikah dengan Abdi selalu saja aku menjadi orang yang salah. Dengan santainya mereka merendahkanku, dengan santainya mereka tidak menganggapku, dan dengan santainya mereka menari diatas penderitaanku! Aku pun juga punya hati, punya perasaan!" Naura dengan reflek menjawabnya keras. 
 
 
Bram yang melihat keadaan Naura saat ini 
sangat tidak baik-baik saja, segera melajukan mobilnya ke arah kiri dan memarkirkan mobilnya sejenak. Kemudian Bram memeluk Naura dengan hangat. Dan mendorongnya pelan, kemudian kedua tangan Bram memegang wajah Naura. "Lihat mataku, Nau. Apa kamu kehilangan sosok Bram yang dulu mencintaimu?" ucap Bram. 
 
"Aku masih sama seperti dulu, Nau! Masih sangat mencintaimu. Jadi apa yang kau pikirkan sekarang? Karna bagaimana pun, mulai sekarang Aku akan tetap di sampingmu, apapun keadaannya ...," ujar Bram sembari menarik Naura dan memeluknya.
 
 
 
 

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!