Wanita Penghibur untuk Suamiku

Balas Dendam

"Tidur yang nyenyak ya, Buk ...." Aqila mencium kening calon mertuanya, ia kini memperlakukan wanita tua di hadapannya ini bak ratu, agar wanita paruh baya itu dengan senang hati menyetujui pernikahan kedua anaknya.

 
Kemudian Aqila mematikan lampu kamar calon mertuanya, agar nyenyak untuk dirinya tidur.
 
Sesaat Aqila jalan melangkah ke arah pintu luar. Dirinya sudah terhadang oleh pria yang sudah menyewa dirinya sebanyak 1 Miliar! Hanya untuk menemani dirinya kesepian saat sang istri sedang melawan penyakit yang di deritanya. 
 
Menyedihkan kan? Aqila membuang senyuman sinis dari pelukan Abdi. "Jangan sedih ... Mas, jangan pernah pusing memikirkan sesuatu," bisik Aqila dengan kedua tangan yang masih memeluk Abdi.
 
"Aku mencintaimu, Aqila ...," ucap Abdi dengan bibir yang sekarang menyentuh bibir Aqila.
 
Tetapi ... tiba-tiba Aqila mengelakkan bibir itu. Tidak seperti biasanya. "Aku ada kejutan untukmu ... Mas, mau ikut Aku?" goda Aqila dengan pelopak mata kiri yang dikedipkan genit.
 
Abdi hanya tersenyum menatapnya dengan tatapan nafsu dan mengikuti langkah Aqila kemana pun dirinya pergi.
 
"Naik mobil?" Abdi menatap heran ke arah Aqila.
 
"Iya, memang kenapa, Mas? Aku ingin menunjukkan Mas sesuatu. Aku yakin Mas pasti senang dengan pertunjukan itu." Aqila mengangkat alisnya sembari merebut kunci mobil dari saku celana Abdi.
 
"Aku yang nyetir," ucap Aqila seraya menggoyangkan kunci mobil ke arah Abdi.
 
Mobilnya kini melaju dengan sangat kencang, sampai membuat bulu kuduk Abdi berdiri merinding.
 
Cittt ....
 
Mobil itu berhenti mendadak ke arah club malam terbesar di kotanya. Bola mata Abdi menyusuri tempat.
 
Tempat di mana yang dirinya sendiri pun belum pernah ke sana. 
 
Apa lagi hanya sekedar masuk ke dalam, terfikirkan pun tidak pernah terbesit di dirinya untuk mengunjungi tempat kotor ini.
 
"Kenapa, Mas?" tanya Aqila yang melihat calon suaminya terdiam membatu seolah kebingungan dengan apa yang dirinya saksikan saat ini.
 
Abdi tetap bergeming, lalu dengan tarikan keras Aqila menarik lengan Abdi. "Mas ... Ayok!" teriak Aqila sembari menarik berat tubuh Abdi.
 
Aqila memimpin Abdi untuk memilah milih tempat di dudukkannya Abdi di kursi pilihan Aqila. "Tunggu sebentar di sini ya, Mas." Aqila membisikkan dengan suara berat dan terasa panas di telinga Abdi. 
 
Abdi yang bingung harus bagaimana dengan keadaan saat ini, hanya menyenderkan kepalanya ke kursi dengan lampu berkelap kelip di dalam kegelapan. Dengan musik yang tiada henti. Yang membuat Abdi semakin pusing tujuh keliling.
 
Dirinya mencoba untuk menutupkan matanya secara perlahan dengan jenuh yang bertambah besar. Namun tiba-tiba sepasang tangan membuat dirinya bergidik, tangan itu menyusuri kakinya. Segera Abdi membuka mata tetapi karena keadaan yang sangat gelap, membuat Abdi harus memperhatikan dengan baik. Siapa sebenarnya yang ada di kakinya saat ini?
 
Abdi dengan jantung yang berdegup ... wanita itu berdiri di depannya, dengan tubuh yang hanya di balut dengan tali hitam melambangkan huruf x di tubuhnya. Gumpalan kenyal terpampang nyata di depannya. 
 
Aqila menari dengan ganas di atas tubuh Abdi dan lagi-lagi Abdi sangat menikmati moment itu.
 
****
"Mas Abdi apa nggak tidur bersamaku?" tanya Naura dalam hatinya sembari menoleh ke arah jam dinding, yang menunjukkan pukul jam 03: 45 pagi. 
 
Dengan perasaan kecewa Naura menaikkan selimutnya, meringkuk di tengah dinginnya malam dibalut hati yang sepi. Naura mencoba menidurkan bola matanya memaksa untuk memejam meski tidak ingin.
 
"Hehhh ... Mas, Aku pusing," suara Aqila manja terdengar terlintas di telinga Naura, ia dengan malas membuka matanya. Melihat Abdi yang sedang menggendong Aqila mengarah ke ranjang.
 
Dengan sergap Naura mengerutkan dahinya, "Tidur bertiga? Apa maksutnya?" Naura melempar pandangannya ke arah jam dinding. 
 
"Gilak ini subuh! Dan kalian baru pulang! Mabuk-mabukkan pula!" Naura mendengus kesal. Namun terabaikan.
 
Dengan rintihan berat Aqila sembari meliuk-liukkan badannya ke kasur. Seolah ingin cepat tubuhnya itu di cumbu oleh pria pujaannya.
 
Abdi menyusuri tubuh itu, di susul erangan Aqila yang semakin kuat.
 
Naura menutup telinganya dengan rapat! Tangan Naura mengarah ke arah mereka seolah menyuruh mereka untuk berhenti sekarang! Tetapi keduanya sama sekali tidak menghiraukan perintah itu. Mereka kini sama-sama mabuk dengan berat.
 
Tidak ada yang sama sekali menyadarkan posisinya saat ini. Hal itu membuat dirinya menemukan ide baru.
 
Naura beranjak dari tidurnya dengan sangat pelan, ia mengambil sebotol bius dan menaburkan cairan itu ke selimut yang saat ini ia pakai. Lalu dengan gerakan cepat ia membius mereka satu persatu.
 
Naura mengambil korek di dalam saku celana Abdi, lalu mengusapkan Air kewajah sampai ke kulit kepala Aqila. Membentangkan Aqila ke tempat tidur dengan rambut yang terurai ke bawah ranjang. 
 
Naura menyundutkan korek itu ke arah rambut Aqila ....
 
Lalu ....
 
Blam! 
 
Api itu dengan cepat merambat ke sela-sela rambut yang tidak terbasahi. Kini rambut Aqila sangat lah berantakan.
 
Naura tersenyum puas ke arah mereka, "Sekarang kalian terlihat sangat mirip kan?" Naura terkekeh.
 
"Aku sangat benci rambut itu ... setiap kali Aku melihatnya, ingin rasanya kujambak dan kubenturkan ke tembok!"
 
Mengingat tingkah laku Aqila dengan sok kecantikannya memainkan rambutnya itu, membuat tambahnya emosi Naura memuncak.
 
"Tapi sudahlah ... biarkan saja, lagi pula rambut itu sudah tidak lagi terlihat sekarang," Naura berdecak dengan senyum kemenangan.
 
Segera ia merapihkan bekas-bekas rambut Aqila yang berjatuhan, Naura pungut lalu memasukkan kotoran itu ke dalam WC. Naura pun bertingkah layaknya penjahat profesional, dirinya harus membersihkan bukti-bukti itu agar dirinya tidak terlibat sama sekali. Naura pun sempat menghair driyer rambutnya, agar terlihat kering natural.
 
Setelah semuanya selesai, Naura bergegas masuk ke dalam selimut berlaga lugu seolah sedang tidak terjadi apa pun.
 
**** 
 
"Uaaaaaaahhhh ... Mas bangun," Aqila mendorong tubuh Abdi. 
 
Abdi membuka matanya dengan perlahan, segera bangun dan tidur memeluk Naura yang sedang terlelap.
 
"Aaaaaaa ..., " jerit Aqila yang berhasil membuat Naura dan Abdi terbangun dengan panik.
 
Dengan tubuh sempoyongan Abdi menemui Aqila yang sudah meringkuk pilu di kamar mandi, "Kau kenapa, Qil?" tanya Abdi yang belum menemukan ke anehan sedikitpun.
 
"Rambutku ... Mas, rambutku ...," ucap Aqila terisak.
 
Terkejutnya bukan main, Abdi menatap ke arah rambut Aqila. "Hah? Kok bisa? Emang tadi malem kamu ngapain aja?" tanya Abdi panik.
 
Aqila menggeleng dengan cepat, "Aku nggak ngapa-ngapain, Mas. Aku yakin ini ulah Naura! Aku yakin itu! Semua yang terjadi di rumah ini, semuanya adalah ulah Naura, Wanita miskin yatim piatu, pembawa sial itu!" Aqila berdecak dengan sangat keras ke arah Abdi.
 
Plak! 
 
Tamparan begitu keras mengarah ke wajah Aqila. "Jaga omong kosongmu!" 
 
Naura tersenyum buas mendengar pertengkaran dari dalam kamar mandi itu.
 
 

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!