Warna Pelangi Cinta

Indikasi

Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman sangat cinta kepada Allah. Dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat) bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya dan bahwa Allah amat berat siksaanNya (niscaya mereka menyesal). (QS. Al-Baqarah : 165).

Mencintai Allah dengan posisi tertinggi tentu sulit. Sulit sekali. Kita harus menempatkan cinta kepada Allah ‘Azza wa Jalla pada tingkatan pertama dalam hati kita. Jika kita mencintai seseorang setara dengan cinta kita kepada Allah, maka bila ditinjau dari ayat di atas, berarti kita sudah mensejajarkan Allah dengan yang lainnya. Padahal tiada seorangpun atau apapun di dunia ini yang setara dan sebanding dengan Allah. Jika hal ini terjadi, berarti kita sudah mengambil tuhan lain selain Allah.

Berhati-hatilah jika kita mencintai wanita melebihi cinta kita kepada Allah, atau ternyata kita memikirkannya dan lebih mementingkannya ketimbang berdzikir dan menyembah Allah, berhati-hatilah orang yang mencintai kekayaan hingga melalaikan kewajiban kepada Allah, berhati-hatilah orang yang mencari kekuasaan dengan berbagai cara hingga tidak lagi melihat haram dan halal.

“Dan, sebagian manusia ada yang menjadikan sekutu-sekutu selain Allah...”

Apakah maksud ayat tersebut? Bahwa penyekutuan bukan hanya dalam bentuk kepatuhan dan penyembahan. Di dalam ayat ini ditegaskan bahwa bentuk penyekutuan bisa terjadi dalam hal cinta dan mencintai, “Mencintai seseorang seperti halnya cinta mereka kepada Allah.” Allah sendiri tidak pernah mengatakan, “Mereka cinta kepada selain Allah.” Juga tidak mengatakan, “Mereka tidak mencintai Allah tetapi mencintai sekutuNya.” Namun penekanannya disini terletak pada sikap seorang hamba yang menyamakan antara cinta kepada Allah dan cinta kepada sekutuNya. Sehingga apabila kita mencintai sesuatu dan menyetarakannya dengan cinta kepada Allah, maka kita sudah termasuk menyekutukan Allah. Wallahua’alam bishawab.

Lutfi menutup buku, “Mahabatullah ,” karya Ustadz ‘Amru Khalid dari Mesir, matanya tak tahan untuk tidak meneteskan beningnya. Dan mengkilat terpantul tersorot lampu kamar. 21 watt. Zilul dari pagi sama sekali tak terlihat karena dari pagi At-Taghyir sedang ada acara seminar, “Quantum Teaching,” di Kampus UM Metro. Faza juga baru saja pergi mengikuti kajian di Babussalam, tatsqif bulanan. Bebarapa hari ini juga tidak dagang karena masih mid semester, besok hari terakhir mid-nya.

Lutfi memejamkan matanya, lebih kuat dan rapat. Hatinya melafadzkan dzikir, mencari ketenangan dari dasar hatinya. Kadang, hamba merasa diri ini lemah, bahkan sangat lemah. Terjebak oleh  perasaan fana yang melenakan, dan masalahnya saya menyadari itu dan membiarkan diri ini terbuaikan. Perjuangan cinta untuk memurnikan ketaatan kepadaMu ternyata memang berat. Tak semudah ucapan atau membalikkan telapak tangan. Kuatkanlah hambaMu ini ya ‘Aziz.

Merasa hatinya semakin tak menentu, diseretnya langkah kakinya, dipaksakan mendatangi kamar mandi di belakang. Gemericik sapuan lembut membasahi kedua telapak tangannya hingga kedua kakinya. Bismillaa hirrahmaa nirrahiim. Bukankah Allah menjanjikan akan berguguran dosa-dosa hambaNya ketika berwudhu? Berguguran di antara sela-sela jemari dan seluruh anggota tubuh lainnya.

Jiwanya serasa lebih siap menghadapi mendung yang menutupi, menghimpit terangnya langit, beningnya air dan jernihnya hati. Sajadah berwarna biru muda, warna kesukaannya tergelar bagai hamparan rumput yang bergoyang merdu dalam pandangan matanya. Tangannya terangkat lurus, jemarinya sejajar di pundak, bibirnya bergetar menyenandungkan takbir bersama takbir jutaan bahkan milyaran makhluk Allah yang lainnya.

“Allahuakbar.”

Allah Maha Besar. Langit terhampar, angin yang bertiup berarak, gunung-gunung yang berdiri tegak, pepohonan  yang bergoyang kian kemari, lautan dan samudera membentang biru kemilau, semuanya berirama takbir ketundukan. Takzim penuh penghayatan, hingga dedaunan yang gugur menanggalkan kesombongannya, menanggalkan keburukan dan kelemahan untuk meninggikan Rabb Pencipta. Yang tersisa hanya penghambaan utuh menghadirkan Sang Kekasih sebagai satu-satunya yang terulung.

“Allahuakbar,” Lutfi melakukan gerakan rukuk.

Lihatlah kebesarannya, air mata taka kan mampu lagi bertahan, tumpah bersama ketidakberdayaan yang menyelinap dan mencoba mengikis iman. Mata tak mampu lagi mengendapkan butiran-butiran beningnya, pipi nan lembut segera terbasuh siraman kesejukan melewati dagu dan terjatuh membentur sajadah dan meresap meninggalkan bekas basah, lalu hilang.

Sesungguhnya seorang hamba itu jika mau mengakui dosa yang dilakukannya, kemudian bertobat kepada Allah, niscaya Allah mengampuni dosanya. 

“Sami’allaahu liman hhamidah.” 

“Rabbanaa walakal hhamdu,” (Wahai Tuhan kami dan segala puji adalah milikMu) hanyalah milikMu ya Allah. Kaulah yang terulung, dan lihatlah hambaMu bersusah payah menghadirkan Engkau utuh dalam sujud cintanya. kepadaMulah kembali setiap urusan dari yang terkecil hingga terbesar, tanpa kesusahan sedikitpun. Cairkanlah hati hambaMu yang mencoba tulus menyerahkan segala urusannya padaMu, kami memohon padaMu, wahai Rabb yang memegang semua kunci hati.

“Allahuakbar.”

Semua dileburkan dalam penghambaan tertinggi sebuah penyembahan. Sujud. Keningnya menyatu bersama lembutnya sajadah. Lelehan cinta dan perjuangan semakin deras mengucur, membasah di wajah dan sajadah lembutnya. Kekuatan cinta apa yang membuat hubungan demikian kuat? Kecuali oleh jiwa yang benar-benar memahami hakikat cinta sesungguhnya, yang tak terkotori kefanaan dan kesemuan. Tinggikanlah orang-orang yang bersujud padaMu ya Allah, walau belum sempurna seperti yang Engkau inginkan.

Shalat itu semakin membuatnya tenang seolah dibelai Tuhan dalam tiupan angin malam yang dingin menusuk. Deep. “Astaghfirullah, Astaghfirullah, Astaghfirullah, Allahumma antassalaam waminkas salaam, tabaarakta yaa dzal jallali wal ikraam. Ya Allah, Engkau Pemberi keselamatan, dan dariMu keselamatan. Maha Suci Engkau, wahai Rabb yang Pemilik Keagungan dan Kemulyaan.” 

Dilipatnya sajadah biru muda itu dilipatnya kembali dan melipatnya, memasukkannya di dalam lemari plastiknya yang terdiri dari lima laci. Hatinya terasa merasakan energi lagi, hatinya sudah jernih kini. Diraihnya handphone siemens yang sedang di isi baterainya. Dicabutnya. Dipencet beberapa nomor telepon, seketika itu juga ditempelkan di depan daun telinga kanannya. Wajahnya memancarkan sinar baru, dan kini tampak ceria menunggu suara dari seberang.

“Ono opo bengi-bengi nelpon  Lut?” seperti suara yang diharapkan Lutfi, senyumnya merekah.

“Ngapuro nganggu turumu Man, iso aku ngomong karo Mamakku ?” Lutfi berharap Rahman, sahabat kecilnya sewaktu di kawasan Blitang mengabulkan permohonannya walaupun rumahnya dengan Rahman berjarak dua kilometer.

“Memang penting Yo?” Rahman menguap, sedikit menyelidik.

“Sangat Man.”

“Jujur sama aku, tentang apa? Aku kan temanmu, masak kau gak percaya sama aku?” nadanya masih terlihat sedikit malas.

“Tentang pernikahanku Man,” Lutfi ingin menarik ucapannya lagi, tapi sudah terlanjur keluar bagai ludah yang terlanjur dimuntahkan.

“Hoe!” ada kekagetan, tapi tak berlangsung lama, “Yo wes, aku segera ke tempat Mamakmu! Kamu matiin dulu saja, gak lama lima menit saja!” dan bunyi sambungan terputus segera terdengar di telinga Lutfi. Kenapa begitu mudah, Allah mempermudah segalanya? Tinggal menunggu lima menit saja. Rahman sahabat kecilnya sudah menikah dua tahun yang lalu saat usinya 21 tahun. Mungkin, itu juga yang membuatnya semangat ketika terdengar alasan Lutfi tentang pernikahan.

Sudah lima menit.

Lutfi mengulang panggilan. Bunyi sambungan teramat lirih, seolah jarak sedetik bagaikan sudah berhari-hari. Diangkat.

“Assalamu’alaikum anakku?”

“Wa’alaikumsalam Mak,” ada getar kerinduan yang tiba-tiba menusuk-nusuk hatinya, Lutfi sudah setahun lebih tidak pulang. Lebaran kemarin pun tidak bisa pulang.

“Ada apa Le? Kayaknya ada yang penting? Rahman sampai terengah-engah naik sepeda. Katanya penting, Mamak bisa bantu apa?”

“Bu...,” ada gamang yang tiba-tiba menelisik tanpa pernah diperhitungkannya dari awal. Sama sekali, “Mak, sebelumnya Lutfi minta maaf jika ini menjadi beban pikiran Mamak. Lutfi tidak bisa lagi menahan beban dalam hati Lutfi, Lutfi minta izin untuk menikah karena Lutfi takut hati ini semakin ternoda dan terperosok. Lutfi ingin menjaga kehormatan Mak,” suaranya sangat pelan, merendah serendah-rendahnya.

Keheningan tercipta cukup lama.

“Le..., tidak ada kebahagiaan bagi Mamak di dunia ini kecuali melihatmu dan Nabil bahagia. Jika itu bisa menenangkan hatimu dan membuatmu bahagia, Mamak merestuinya bahkan Ibu lebih bahagia dari bahagia yang kalian rasakan.”

Kebisuan itu segera terganti isak lirih Lutfi, “Mak, engkau adalah anugerah terindah yang Allah turunkan untuk Lutfi dan Nabil. Mamak harus jaga kesehatan, jangan terlalu banyak menerima order jahitnya, Mamak harus sehat. Maafkan kami jika selalu menyusahkan Mamak, maafkan Mak.”

“Sudahlah Lut, kamu ini katanya mau menikah. Tapi, masih seperti anak kecil, hapus airmatamu, Mamak akan berusaha menjaga kesehatan. Kamu juga jaga kesehatan, jangan bekerja terlalu keras. Jaga adikmu baik-baik.”

“Nggeh Mak. Pamit, sampaikan terima kasih pada Rahman. Assalamu’alaikum,” sambungan terputus. Ada  secercah sinar dari kelopak matanya yang masih sedikit sembab, tapi ada kebimbangan yang juga tiba-tiba menyeruak. Apakah wanita itu mau menikah denganku? Jika iya, apakah dia bisa hidup dengan hidupku yang selalu hidup dalam kesederhanaan? Bukankah nanti aku hanya akan menyakitinya, karena aku tak punya apa-apa? Bukankah lebih baik dia bersama orang lain yang lebih pantas dan dia akan bahagia? Pertimbangan-pertimbangan itu menjejali ke seluruh otaknya, menghimpit setiap ruang pikirnya. Apa yang akan dilakukan Lutfi selanjutnya? Lutfi sendiri tak tahu, masih gamang.

Lenggangnya malam itu tiba-tiba ditimpali suara salam. Suara Faza, rupanya tatsqif di Babussalam sudah selesai. Faza membawa kunci cadangan, Lutfi menjawab salam lirih dari tempatnya, tak bergerak sedikitpun. Suara langkah kaki Faza tertangkap oleh telinganya, memasuki rumah dan gemericik air segera terdengar. Tangannya dipaksakan segera bergerak pada rak di sampingnya, menjangkau mushafnya.

Lantunan lembut nan merdu segera meresapi jiwa dan kegalauan hatinya yang bimbang. Oh..., alangkah menderitanya jiwa ini. Seandainya aku dari dari awalnya akan sengsara seperti ini, menjadi sangat rapuh dan lemah hanya gara-gara wanita, aku pasti tak akan pernah memendam dan menyemai perasaan ini terlalu jauh sejak semula. Perasaan ini telah merasuk begitu dalam dan kuat bagai duri yang terlanjur manancap, inginnya tidak tertusuk tetapi tanpa sengaja telah menancap dan membuat luka yang teramat dalam. Allah, tolonglah hambaMu, hamba dalam kebimbangan dan keresahan yang sangat.

Hatinya tiba-tiba membutuhkan orang lain untuk membagi keresahan jiwanya. Kepada Faza? Pasti jawabannya akan seperti tempo hari. Tapi, di antara teman-teman yang pernah dikenalnya memang belum pernah dia menemukan seseorang yang teguh memegang prinsip hidupnya kecuali Faza, teguh dalam menekuni lakon hidupnya penuh optimis di antara keterbatasan-keterbatasan. Tempo hari, pertama kali bagi Lutfi, Faza cerita tentang ganjalan pribadinya tentang skripsi dan kini..., Lutfi semakin yakin, Fazalah yang dibutuhkannya saat ini. Apapun sarannya. Diakhirkannya tilawah Qurannya, dikecupnya cover mushaf kuning keemasan itu penuh cinta, untuk Allah semata.

Langkahnya segera dikuatkan, tubuhnya serasa ringan terangkat dan bergerak kini. Seringan kapas. Di ruang depan Faza tidak tampak, di kamar satunya terkunci. Pasti Shafwan dan Hafidz sudah terlelap. Rasyid di kampus, pergi dari pagi buta bersama Zilul, acara di At-Taghyir berlangsung selama dua hari. Sebentuk tubuh bergerak di atas sajadah di ruangan tengah, Lutfi duduk di pojok ruangan tengah itu. Menunggu Faza mengakhiri shalatnya. Menunggu bukanlah pekerjaan yang membosankan, walau ada benarnya juga membosankan. Bukankah kita sudah terbiasa menunggu, dari mulai kita dalam bentuk roh kita juga bersabar antre menunggu, menunggu di lahirkan di dunia oleh Allah ‘Azza wa Jalla.

Faza mengakhiri shalatnya, melihat sekilas bayangan di belakangnya membuatnya mempercepat munajat cintanya, “Kamu ada masalah lagi saudaraku?” wajah itu menatap penuh perhatian ditimpa cahaya remang lampu jalan yang menyorot menembus jendela kaca di ruang tengah tersebut, menyisakan kabut tipis di dalam ruangan yang tersorot   cahaya lampu.

“Aku membutuhkan saranmu lagi Faz?” suaranya nyaris tak terdengar.

“Bagaimana kalau di luar saja?” Faza menawarkan, senyumnya  mereka di antara rekatnya kabut malam yang menentramkan kalbu. Ukhuwah yang terjadi dari saling memercayai. Lutfi mengangguk tanda setuju. Mereka berjalan menuju keluar kontrakan ditimpa remang cahaya bulan sabit, mendung yang tipis sesekali menutupinya namun segera ditingkahi angin malam dan segera mengusir mendung itu jauh-jauh. Bulan sabit terlihat jernih kembali. Sunyi dan sepi, namun sama sekali tak bisa menghentikan cahaya Ilahi yang ditebarkan ke dalam hati siapapun yang dikehendakiNya.

Suara jangkrik dari pojok bunga-bunga di sebelah kiri kontrakan berdendang dzikir, meningkahi suara berat dan basah Lutfi menceritakan derita dan teramat sengsaranya yang teramat dalam membebani jiwanya.

“Saudaraku,” Faza memegang pundak sahabatnya, menguatkannya. Tak disangkanya sahabatnya itu telah tergoda dunia demikian dalam, “Rasa cinta itu fitrah manusia, kita boleh mencintai apapun dan siapapun di dunia ini asalkan tidak sama sekali menggantikan cinta sejati dan utama kita yakni Allah ‘Azza wa Jalla. Banyak orang yang memahami kata-kata ini, namun mereka berlepas diri dari melaksanakannya. Mereka melarikan diri kenyataan syariah. Mereka melakukan eskapisme, lari dari kenyataan kebenaran. Mereka paham, tapi pura-pura tak tahu.

Sebenarnya permasalahanmu sangat ringan, tapi engkau sendiri yang membesar-besarkannya. Kau memendamnya dan berusaha menyelesaikannya sendiri namun pada akhirnya, kadang kita kalah dan menghakimi segala keterbatasan dan ketidakberdayaan diri. Yang kita butuhkan adalah keyakinan diri untuk berani. Berani berarti jihad, jihad melawan nafsu syahwat yang terus-menerus menggoda dan menjerumuskan manusia. Manusia adalah tempatnya dosa dan lupa, dan manusia yang terbaik adalah yang segara kembali kepada Tuhannya. Kita tahu sederetan nama Nabi-Nabi, Khulafaur Rasyidin, Tabi’in, ‘Ulama, Orang-orang shaleh pun tak lepas dari kesalahan namun mereka segera kembali pada Tuhannya dengan tidak pernah berputus asa dari rahmatNya.

Sudah saatnya Insyaallah, engkau diingatkan Allah agar kau menjaga kehormatanmu. Maka menikahlah, karena itu akan lebih menjagamu dari syahwat. Kita sama-sama tahu, tak perlu mengkhawatirkan rizki, karena Allah ‘Azza wa Jalla yang mengaturnya. Allah yang memberi makan dan mengurus setiap hamba-hambaNya. Kita tahu sabda Rasulullah saw, “Tiga orang yang akan selalu ditolong oleh Allah SWT, yaitu seorang Mujahid yang berjuang di jalanNya, seorang Penulis yang memberi penawar dan seorang yang Menikah untuk menjaga kehormatannya. 

Engkau harus yakin, bukankah Ibumu sudah mengizinkannya? Semua keputusan ada di tanganmu kini. Kau yang berhak atas pilihan-pilihanmu, kami teman-temanmu hanyalah menjadi saran jika kau butuhkan. Bolehkah aku bertanya masalah pribadi sahabatku?”

Lutfi mengangguk, wajahnya lebih matang kini menghadapi setiap kemungkinan.

“Siapa wanita yang membuatmu sakit hingga demikian parah? Kenalkah aku?”

“Di..., Dia,” Lutfi agak ragu menjawab, “Dia Naurah Latifah An-Nawwar,” ada sedikit kekagetan di wajah Faza yang tertangkap oleh kedua mata Lutfi, namun segera hilang terembus udara yang semakin dingin.

“Pantas saja,” Faza tak meneruskan kata-katanya, seolah tenggelam dalam kebisuan malam.

“Pantas kenapa Faz? Apakah aku tak pantas untuknya?” matanya yang layu semakin penasaran dan menciut meminta penjelasan.

“Bukan masalah pantas atau tidak pantas saudaraku, bukankah itu ketentuan Allah yang telah menggariskannya? Kau memendam rasa cintanya itu wajar, karena dia dari keluarga yang baik, dia cantik, pemahaman agamanya bagus, kurasa sedikit kekurangannya itu yang kudengar dari obrolan teman-teman tentangnya. Aku mendukungmu untuk segera melamarnya sebelum kau didahului orang lain. Jika kau tidak segera meminta kepastiannya, mungkin saja aku yang akan mendahuluimu,” senyumnya tipisnya menantang, alis matanya terangkat sebelah. Lutfi merasa kalah sudah kalah.

“Tapi Faz, benarkan engkau tidak bersimpati padanya? Aku juga takut jika ternyata wanita itu ada yang mengharapkannya juga sebagaimana aku telah berlebihan dalam mencintainya. Aku taku jika ternyata kau juga mengharapkannya.”

Suasana hening tiba-tiba.

“Lutfi, Lutfi. Naurah itu adalah akhwat berkarakter kuat, dia cantik dan dakwahnya tidak dipertanyakan lagi, tentu banyak lelaki yang mengharapkannya menjadi pendamping hidupnya. Kau memang telah terasuki syahwat begitu kuat, yang kau lihat hanya hanya kelebihan satu wanita, bukankah di dunia ini banyak wanita shalihah? Allah menciptakan manusia itu ada kelebihan dan ada kekurangannya, di atas kelebihan masih ada yang lebih baik lagi sebagaimana langit yang terhampar di ujung teratas, di atasnya masih ada langit lagi.

Seseorang itu boleh mencintai lawan jenisnya siapapun orangnya, tapi ingatlah satu hal jika saudara kita melamarnya karena dia sudah siap maka kita harus membantunya. Seorang pria boleh mencintai wanita lebih dari satu, bahkan banyak juga boleh. Namun, jika saudara kita mendahului kita karena kesiapannya kita harus legowo  dan mengikhlaskannya. Itulah ukhuwah, kenikmatan dunia itu seperti jarum yang dicelupkan di samudera dan diangkat. Air yang menetes dari jarum tersebut, itulah dunia seisinya dan samudera yang terbentang itulah karunia Allah ‘Azza wa Jalla, kenikmatan syurga.

Jika kau yakin untuk menikah? Maka segeralah melangkah, namun jika kau belum siap banyaklah menjaga pandangan dan hati, karena itulah semua bermula. Jika ingin menikah, siapkanlah dirimu semisal lamaranmu ditolak, bukankah wanita shalihah di dunia ini banyak dan Allah telah menentukan siapa jodoh kita?”

Senyum mereka menyatu bersama merangkaknya malam mendekati pagi, 23.58.

“Aku akan melangkah Faz, apapun resikonya. Ditolak atau diterima, setidaknya aku sudah berupaya dan Allahlah yang menentukan hasilnya.”

Faza tersenyum, “Ingatlah cerita Bilal bin Rabbah ra. yang melamar, dia berkata jika diterima akan mengucapkan, “Alhamdulillah,” dan jika ditolak akan berkata, “Allahuakbar,” berarti Allah ingin memberikan yang terbaik untuknya. Lalu, bagaimana  caramu hendak melamarnya?”

“Aku sudah memikirkannya, aku akan minta bantuan Ustadz Fajar. Beliau masih kerabat denganku. Kebetulan pernah aku melihat Naurah menghadiri kajian di rumahnya yang diisi mbak Yanti, istri ustadz Fajar. Dari mereka juga aku mendapat informasi tentang Naurah. Aku tidak akan melamarnya tanpa perantara, karena aku takut semuanya akan runyam, lebih aman menggunakan perantara.”

Dan malam itu berakhir dengan tekad kuat dalam hati Lutfi. Besok adalah perjuangannya, menampang planning, “Menjemput Bidadarinya,” apapun yang terjadi. Lutfi memejamkan matanya sambil berdoa, senyumnya tersungging mesra, “Terimakasih ya Allah, atas semua karuniaMu, Engkau yang paling tahu mana yang terbaik untuk hambaMu.”

Di sampingnya Faza merebahkan tubuhnya. Kini, Faza yang pikirannya seolah bimbang dan gelisah, sedari tadi tak bisa memejamkan matanya, “Allah, lalu kapankah giliranku memboyong Bidadari yang bermata lentik. Bagai Ainun Mardiyah yang Kau janjikan untuk para Syuhada? Allah..., aku tak kuat berharap lebih. Hasbunallah wani’mal wakiil, ni’mal mawla wa ni’man nashiir. Perlahan matanya bisa memejam. Cahaya Allah berpendar-pendar, menyinari dunia ketika para jiwa terlelap. Seperempat malam terakhir beberapa jam lagi akan tiba, Allah akan mengabulkan doa-doa para hambaNya dan akan turun ke bumi.

          

Siang ini mendung temaram melanda Kota Metro, matahari seolah malu untuk menampakkan dirinya. Sesudah  mata kuliah kedua filsafat  usai, Shafwan shalat dzuhur di mushola El-Fikri di STAIN.

kekhusukannya sedikit terusik di tengah-tengahnya shalatnya, wanita bermata kemilau biru langit itu melintas mengganggu ibadahnya. Airmatanya menetes pelan, mengalir membasah pipinya. Allah, kini aku sulit menghadirkanMu utuh dalam ibadahku. Syirikkah hambaMu ini? Dosakah ini? Jika ini dosa, tolong cerabutlah bayangan wanita itu sejauh-jauhnya agar aku dapat kembali mereguk nikmatnya berkhalwat denganMu. Allah...

Salam tertunaikan. Shafwan semakin nelangsa dalam doanya, dzikirnya kebanyakan istighfar daripada hamdalah. Saat mengakhiri doanya, kedua telapak tangannya menyapu wajahnya terhenti lama menutupi wajahnya. Hatinya telah tertusuk lebih dalam daripada bulan yang tertusuk ilalang ketika melihat dari bawah rindangnya, luka di hatinya teramat dalam hanya dari sebuah pandangan sekilas? Teramat kuatkah perasaan itu? Dan itulah kehidupan yang unik ini, Shafwan terperangkap dalam jerat syetan melalui pandangan sekilasnya tersebut.

Shafwan  melangkahkan kakinya pulang, bibirnya membaca hafalan Qurannya. Dia hafal tiga juz, dari juz 28-30. Dia menyetorkan setiap hafalannya pada Hafidz ketika ba’da maghrib, itupun jika keduanya longgar. Langkah teriring lafadz Qurannya, bersama alam yang senantiasa mengagungkan Rabb Semesta Alam.

Syetan telah menguasai mereka lalu menjadikan mereka lupa mengingat Allah; mereka itulah golongan syetan. Ketahuilah bahwa sesungguhnya golongan syetan itulah golongan yang merugi.  Shafwan memejamkan matanya, memaknai artinya. Ditatapnya langit mendung, matahari masih samar terlihat. Hidup ini harus punya kejelasan seperti jelasnya siang dan malam.

Aku harus bertindak tegas tentang masalah ini. Aku tak akan membiarkan lagi hatiku rusak dan tercabik-cabik perasaan terhadap dunia. Menikah atau menahannya? Menahan berarti shaum, tapi tak menyelesaikan masalah secara permanent. Aku harus menikah! Ya, dengan wanita shalihah. Walau wanita bermata biru itu terus bermain-main dalam hatiku, aku harus dapat melupakannya. Aku akan mengikuti saran dan kehendakku pada awalnya. Melamar adik kak Faza, walau aku belum pernah melihat wajahnya, tapi aku yakin tak akan jauh berbeda dengan karakter kakaknya.

Ya! Aku akan melamar adik kak Faza. Allah, restuilah penawar yang akan kuambil untuk mengobati luka parah ini.

Shafwan melangkah mantap. Sementara, di sebuah kost di Jalan Gurame seorang wanita juga merana dalam dzikirnya seusai shalat dzuhur. Pipinya basah oleh airmata. Allah, tolonglah hambaMu. Kuatkan hati hambaMu dalam jerat syetan ini. Jangan jadikan hati hamba terombang-ambing dalam ketidakberdayaan ini. Jika lelaki itu memang kau turunkan untuk hambaMu yang lemah ini maka segerakanlah pernikahan bagiku. Jika bukan maka jauhkanlah dia sejauh-jauhnya dari hati dan pandanganku. Zulfa mengusap airmatanya.

“Zulfa ada masalah ya? Engkau menangis?” Zulfa kaget, dia lupa  jika Azizah juga shalat di belakangnya sebagai makmum. Mereka sering bergantian imam.

Zulfa berbalik dan memeluk Azizah dan sesenggukan dalam pelukannya, mencoba mencari ketenangan. Jika kita pusing dan penat memikirkan hidup, maka obatnya sebenarnya ada di dekat kita. Sesuatu yang paling dekat dengan kita, namun kita jarang mau melihatnya.

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!