Warna Pelangi Cinta
Apa yang Terjadi Denganku?
Wanita itu masuk ke kamarnya masih dalam keadaan bergetar. Dia adalah Salwa Salsabila, artinya Madu dari mata air di surga. Salwa menghempaskan dirinya di kasur empuknya. Kamar yang lumayan besar, sekamar sewanya dua juta. Kamar mandi ada di kamar, dan perlengkapannya disediakan meja belajar plus spring bed. Baginya tidak ada masalah sama sekali, jika ada kamar yang lebih bagus di kota Metro ini maka akan disewanya. Matanya menelisik setiap ruangan di kamar itu, dinyalakannya kipas angin. Suuuurr! Rambut sepundaknya tergerai ke belakang, diteguknya air minum dari galon air lalu dihempaskan tubuhnya di ranjang setelah menaruh tasnya di plastik gantungan di belakang pintu.
Matanya kembali menelisik praflon hijau, warna kesukaannya. Dalam rebahnya, hatinya melayang, melanglang, menembus imajinasi khayalnya. Apakah wajahku ini cantik? Dipaksanya tubuh itu untuk menghadap meja rias kecilnya, mematut-matut dirinya di hadapan wajahnya yang terpantul. Wajahnya meliuk ke kanan dan kiri, lesung pipinya yang merona merah bagai lekukan di batu permata mirah yang kemerah-merahan. Wajah bersihnya menyempurna kala siang hari. Saat kemilau matahari menerangkan apa saja.
”Sebelumnya saya minta maaf jika ini menyinggung anda. Saya juga punya seorang adik perempuan. Dia kini juga kuliah semester dua di STAIN, dia selalu berpesan kepadaku bahwa seorang wanita itu dilihat dari akhlaknya. Disitulah letak kecantikan dan kemulyaan seorang wanita,” kalimat itu terngiang-ngiang dalam rebah tubuhnya di atas kasur empuk.
Lelaki yang sangat sopan..., Disitulah letak kecantikan dan kemulyaan seorang wanita? Apa maksudnya ya? Salwa mencerna kata-kata itu berulang-ulang tapi tak menemukan apa-apa kecuali pikirannya semakin melayang. Diingatnya kembali perkataan lelaki yang menasehatinya.
”Adikku berkata, cantik tidaknya seorang wanita cukuplah dilihat dari perilakunya, karena itulah yang akan abadi dari hidupnya. Cantiknya wajah bisa pudar kapan saja, namun sikapnya akan selalu hidup walau kematian telah menjemputnya. Perilaku itu bagai kristal atau hablur yang mengkilap, dia bersih lagi jernih.” setiap kata-katanya begitu mesra dan indah, seperti tulisan-tulisannya di majalah kronika atau Lampung Post. Dia lelaki yang romantiskah?
Tiba-tiba air muka Salwa berubah, Ada apa denganku? Pantang bagiku untuk menghiba cinta dari seorang lelaki. Aku sangat cantik, bahkan dari SMP, aku telah menjadi rebutan para cowok. Kini..., aku memikirkan lelaki itu? Tidak! Sangat memalukan jika aku harus menghiba cinta.
Lalu sejenak kemudian bayangan lelaki bernama Faza itu kembali terngiang. Dia tak lagi bisa berbohong pada ketampanan lelaki itu dan prestasi-prestasinya yang membawa harum nama Universitas Muhammadiyah. Selain kekaguman itu, Salwa tidak tahu banyak akan kehidupan lelaki itu. Suatu saat mungkin...
Lutfi menghempaskan tasnya di lemari kainnya. Di kamar yang letaknya di sebelah ruang tamu. Dilihatnya jam dinding di atas ranjang, pukul 14.11. Nama lengkapnya Lutfi A’saru Yasar.
Fiiuuuh! Ada kelegaan dalam hembusan nafasnya dan raut wajahnya yang ceria walau terlihat tanda-tanda kelelahan disana. Kamar itu ditempatinya dengan Faza. Kamar yang lebih kecil dari kamar yang lainnya.
Dia berjalan ke kamar depan, Dilihatnya Zilul membelakanginya, Lutfi rebahan di sebelah sahabatnya itu. Ikut merasakan hembusan kipas angin dan lantunan Murottal. Zilul terlihat telah lelap, satu kamar luas ini ditempati tiga orang. Zilullah, Faza dan Lutfi.
Pikirannya menyelam
Bimbingan skripsiku telah selesai. Ketiga Dosen telah ACC, hanya tinggal perbaikan dan langsung ujian skripsi. Alhamdulillah. Allah..., betapa Kau selalu menunjukkan kepadaku akan kasih-sayangMu. Kau tak peduli walau hambaMu ini selalu mengkufuri nikmatMu. Allah..., tunjukkanlah setiap jalanku.
Lutfi berdiri kembali, ditinggalkannya Zilul yang tertidur. Pintu kamar kedua tertutup, mungkin mereka tertidur. Sangat wajar, karena panas sedang membara di kota Metro. Langkahnya menuju dapur, diambilnya gelas dan sejenak kemudian air kran dibukanya. Bismillaa hirrahmaa Nirrahiim, kesegaran benar-benar mengisi seluruh syarafnya. Kekeringan tenggorokannya terbayar sudah, ada rasa haus itu adalah nikmat, setelah minum air maka kepuasan kesegaran benar-benar rasa yang lebih nikmat lagi. Allahlah yang menciptakan segala rasa, termasuk...
Bayangan itu berkelebat kembali saat Lutfi melihat dua wadah barang belanjaan untuk berdagang nanti sore. Pasti Faza yang belanja tadi sebelum shalat Jumat. Membayang keadaan ekonominya yang kepayahan, adiknya yang masih semester dua, tak kuasa airmatanya meleleh di antara kesejukan yang baru saja direguknya. Tangannya sigap membersihkan linangan embun di matanya.
Bayangan yang selalu ditutupinya atau lebih tepatnya berusaha dihapusnya dalam memori ingatannya. Tetapi hingga dua tahun ini, dia tidak sanggup melupakannya. Sungguh kali ini, setelah skripsinya tinggal ujian akhir. Dia mengambil Jurusan Syariah, Prodi Ekonomi Islam, semester delapan. Kenangan itu semakin menguat. Ingin maju menjemputnya, namun keadaannya yang kepayahan langsung menyurutkan langkahnya. Lalu bibir dan hatinya berucap Istighfar, semuanya dari Allah dan pasti akan kembali pada Allah jua. Bukankah sebagai ciptaanNya kita harus menerima apapun yang menjadi kehendakNya?
Namun, sedetik kemudian. Hatinya kembali tak kuasa menahan rindu yang tiba-tiba menusuk-nusuk hatinya. Rindu yang berdebam-debam ingin memiliki, rasa yang membuncah hingga melukai setiap syaraf pikirannya. Kembali Lutfi berdzikir untuk menenangkan hatinya yang gundah. Lupakanlah wahai hati, sungguh Allah tak rela..., Allah tidak rela. Sadarlah wahai diri, siapakah engkau? Airmatanya tumpah kembali. Didudukkannya tubuh itu di undakan dapur yang tingginya satu meter atau lebih dan memiliki empat undakan. Lutfi di undakan paling bawah.
Aku adalah Lutfi. Lutfi A’saru Yasar. Aku adalah lelaki tegar yang menjaga izzahnya, dengan kedua tanganku sendiri. Aku kuat! Aku kuat! Lutfi bangkit dan mengambil dua wadah belanjaan itu. Dibukanya satu persatu, ditata dan dibersihkan agar nanti sore ketika ba’da Ashar ketika Faza pulang sudah beres. Kasihan Faza, jika pulang langsung menyiapkan dagangan, biarkan aku saja.
Saat mencuci pisang, bumbu-bumbu lain serta memberesi tahu lalu menggantinya dengan air ditaruh di baskom kecil. Saat air kran mengalir, airmatanya tak kuat pula menetes kala air kran mengucur. Bayangan itu kembali menyembul, Aku benar-benar lemah. Aku tak bisa seperti Faza yang tegar, bahkan dia mengorbankan apa yang paling dia cintai untuk adiknya, yaitu menuntut ilmu. Oh..., ampuni hambaMu Allah..., ampuni hambaMu...
Lutfi teringat percakapannya dengan Faza tiga hari yang lalu, temanya adalah tentang pernikahan. Di teras saat bulan menukik turun, larut malam.
”Faz!” Lutfi menatap lekat Faza yang terlihat keletihan setelah pulang dari belajar Bahasa Arab di Darul Arqam. Lutfi sebenarnya sudah selesai cukup lama membereskan barang dagangan dan mendorong gerobok, tapi dia sengaja tidak masuk ke rumah tapi memandangi bulan yang menyapa malam, hingga Faza pulang dan duduk di sebelahnya.
”Kau punya masalah Lut?” Faza balas menatap lekat Lutfi.
”Boleh aku bertanya sesuatu padamu?” Lutfi tak membalas pertanyaan Faza.
Faza hanya mengangguk.
”Kita sama-sama serba kekurangan, tapi aku masih lebih baik darimu. Aku masih punya Ibu, tapi kita sama-sama punya adik perempuan,” Lutfi menatap wajah bulan yang bersinar terang di antara tipis awan. Wajah bulan itu benar-benar menjelma sesosok wanita yang telah menahan hatinya, hanya dia dan Rabbnya yang tahu. Siapa wanita itu.
”Kapan kau akan menikah?” pandangan Lutfi masih teguh menatap bulan, tak dihiraukannya tatapan Faza padanya, dia menunggu jawaban Faza.
”Bagiku...,” Lutfi mengalihkan pandangannya dari bulan, kini dia serius ingin mengetahui jawaban sahabatnya itu.
”Azizah adalah segalanya, cukuplah kebahagiaannya yang menjadikanku tenang. Biarlah tubuhku ini remuk, asal dia bahagia. Aku ingin dia menuntut ilmu dengan tenang tanpa beban. Aku tak kuasa jika dia berhenti sekolah, lebih baik aku saja yang menghentikan kuliahku. Kulihat senyumnya yang indah, cukuplah bagianku di dunia ini. Cukuplah Allah melihatku dari sana. Bagiku itu sudah cukup. Jika kau tanya tentang pernikahan, maka dalam anganku belum sama sekali terbersit keinginan itu. Biarlah nanti Allah yang menunjukkan jalanNya.
Bagiku..., kuasa Allah sangat cukup. Dia telah menanamkan hatiku terhadap ilmu, itu adalah nikmat terbesar dalam hidupku. Aku belum mau berharap lebih, apalagi tentang bidadari yang akan menemani langkah kita kelak, mendidik para mujahid, menemani kesepian kita. Biarlah kulihat adikku tegar dan bisa berdiri tanpa aku, maka aku akan berdoa pada Allah untuk mengirimkan bidadari untukku. Kenapa kau bertanya seperti itu saudaraku?” kini Faza balik bertanya, ”Apakah kau hendak menikah?”
Raut wajah Lutfi yang sedikit lonjong itu keget. Matanya yang bulat membesar, rahangnya yang kokok gemeretuk, ”Bukan Faz, aku hanya ingin tahu pendapatmu saja jika aku atau kamu menikah sekarang?” untunglah Faza tidak melanjutkan interogasinya. Begitulah Faza, dia tidak mau bertanya-tanya tentang permasalah pribadi orang lain secara mendalam. Kecuali, jika ada yang ingin curhat, dia akan melayaninya dengan sungguh-sungguh.
Ingatan Lutfi membuyar. Aku memang lemah, aku tak bisa setegar Faza. Padahal hidupnya penuh dengan penderitaan, lihatlah lelah yang merasukinya tapi tak sekalipun mengeluh hanya wajahnya ceria dan lembutnya yang nampak. Saat membicarakan kesenangan pribadinya, dia hanya mengatakan ilmu-lah yang paling menggembirakannya. Tak ada kebahagiaan dalam dirinya kecuali untuk adiknya.
Itulah lemahnya aku..., aku hanya memikirkan kepentingan pribadiku.
Kelebat bayang wanita itu memantul kembali dalam hatinya yang gundah, Kenapa engkau muncul lagi..., aku memang tak pantas untukmu. Ya Allah, hilangkan bayangan itu..., hilangkah ya Allah.
Lutfi benar-benar tersiksa oleh perasaan yang seharusnya tak ada kecuali pada isterinya kelak. Perasaan itu mendebam, mendekam kuat. Lutfi jatuh cinta? Entahlah, pengertian cinta juga dari kehidupan ini mulai diciptakan pengertiannya tidak pernah sama, sok memberi pengertian sendiri-sendiri, setiap orang merasa paling berhak mendefinisikan pengertian cinta dari pikirannya sendiri-sendiri. Setiap orang tidak mau mengalah dengan argumennya. Kali ini, Lutfi merasakan sakit di hatinya. Dia bahkan bingung mendefinisikan perasaannya itu. Cintakah? Bukankah cinta itu hanya untuk Allah Azza wa Jalla yang telah menciptakan kata bernama cinta?
”Dan di antara manusia ada orang – orang yang mengambil tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah Azza wa Jalla. Dan jika seandainya orang-orang yang berbuat dzalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah Azza wa Jalla semuanya, dan bahwa Allah amat berat siksaNya (niscaya mereka menyesal). ” (QS. Al-Baqarah: 165).
Lutfi menaruh bahan-bahan di tempat yang sudah disediakannya, adonan bakwan sudah dipersiapkannya, dan alat pembuat molen juga sudah dicucinya. Sudah beres, Alhamdulillah. Adzan menggema bersahut-sahutan. Hatinya bergetar, ditinggalkannya pekerjaan. Shafwan dan Rasyid keluar dari kamar, begitupun dengan Zilul yang matanya seperti sembab. Habis tidur atau menangis? Tapi mereka berempat segera mengambil sandal jepit, lalu ke masjid Al-Aqsho.
Hayya ’Alash sholaah
”Wahai manusia, cintailah Allah dari setiap hati-hati kalian.” (HR. Ath-Thabrani).