Warna Pelangi Cinta

Luka Kenangan Hafidz

”huuff!” 

Lelaki bersurban putih melingkar itu menghembuskan angin pelan sambil memejamkan matanya sejenak. Ada semburat kelegaan terpancar dari wajahnya, senyumnya mengembang menghiasi wajah bersihnya. Dia mengangkat mushafnya yang sedari tadi dipegangnya. Diangkatnya sejajar dengan wajahnya, lalu diciumnya dengan penuh cinta, penuh rindu, sepenuh perasaan. Airmatanya meleleh. Hatinya merasakan penuh kesyukuran, seolah dielus-elus Allah Azza wa Jalla, seolah dibuai dalam lautan cinta. Malaikat menjadi saksi atas kegembiraannya, dalam senyumnya, dalam kebahagiaannya mencintai Al-Quran.

Matanya yang bening terpejam lama, menikmati sentuhan mushaf yang merupakan firman-firman Allah Azza wa Jalla. Kesejukan menjalar ke seluruh organ dan sarafnya. Di depan mihrab masjid Babussalam, saksi perjuangannya menghafal       Al-Quran. Tinggal satu juz lagi.

Masa lalu yang kelam, yang selalu ingin dilupakannya. Kali ini, kembali terngiang dan tampak bagai gambar besar yang digelar di hadapannya.

”Anak kurang ajar! Anak syetan!” pukulan dengan gagang sapu itu berkali-kali menghantam punggungnya yang kecil. Hafidz menangis meraung-raung tak karuan. Tangan kanannya dipelintir.

”Ampun Pak! Ampun!” tenaga Hafidz yang berumur 12 tahun itu tak bisa menandingi kekuatan Ayah tirinya, apalagi Ayahnya adalah Preman yang paling disegani di daerah Tegineneng.

Seorang wanita berlari masuk ke dalam dan berlinang airmatanya, ”Pak, tolong jangan sakiti anakku. Aku akan memarahi dia jika dia ke rumah wak Sobri lagi. Kumohon ampuni dia Pak!” wanita itu menangkupkan tubuhnya melindungi anak satu-satunya, Hafidz Habibullah.

”Baiklah! Tapi ini yang terakhir. Awas! Jika aku melihatnya lagi di rumah Sobri bejat itu. Bisanya merusak anak orang! Cuih!” Sarman meludah asal, mencelat di meja tamu. Lalu pergi sambil menendang daun pintu hingga berdebam keras.

”Hafidz, kenapa kamu ke tempat wak Sobri lagi?” wajah teduh ibunya menatapnya sambil mengusap wajah Hafidz yang masih meringis kesakitan. Disingkapnya kaos anaknya. Puluhan luka membiru, membekas, dan darah sedikit mengalir. Luka lama dan luka baru bercampur hingga hanya memar dan biru yang nampak. Wak Sobri adalah saudara jauh mereka, dia adik angkat almarhum ayah Hafidz.

Hafidz mengusap airmata ibunya. Tangan mungilnya mengusap lembut pipi ibunya, ”Hafidz hanya melaksanakan amanah almarhum Bapak Bu, Hafidz sangat mencintai Bapak. Dia ingin melihat Hafidz Hafal Quran, sebagaimana Bapak memberi nama Hafidz Habibullah padaku. Sampai kapanpun, Hafidz akan belajar Al-Quran, karena itulah kehidupan Hafidz Bu,” Matanya yang menangis menyiratkan cahaya yang kemilau indah.

”Tapi Nak, itu membahayakanmu saat ini. Kau bisa belajar nanti ketika sudah besar, tundalah. Bapakmu Sarman tidak akan membiarkanmu kesana lagi. Kau akan dipukulnya lagi. Ibu tidak bisa menjagamu terus.”

”Kenapa Ibu tidak mau bercerai dari lelaki bejat itu Bu? Setiap hari kerjaannya hanya mabuk saja! Setiap hari Ibu selalu disakitinya. Kemarin Hafidz lihat dia masuk ke tempat pelacuran. Ibu telah menyakiti almarhum Bapak, Ibu telah menyakiti Hafidz! Kumohon Ibu bercerai dengannya dan kita pergi jauh dari sini. Hafidz ingin menunaikan amanah Bapak, ceraikan dia Bu!” Hafidz memeluk erat ibunya. Airmatanya mengalir melihat penderitaan ibunya yang sering dimarahi Sarman. Lelaki bejat itu, Hafidz pun tak pernah mengakui dia sebagai ayahnya.

Aminah menggeleng-gelengkan kepalanya sambil berurai airmata. Hatinya sangat perih membayangkan hidupnya, ’Anakku, betapa ingin Ibu bercerai dari lelaki bejat itu. Tapi, engkau tidak akan paham kenapa Ibu melakukan ini semua. Ibu melakukannya demi engkau Hafidz, hanya demimu Nak. Demi cinta Ibu pada Bapak. Jika Ibu minta cerai kau akan dibunuhnya, seperti dulu ketika dia memaksa Ibu untuk menikah dengannya. Ayahmu dulu juga dibunuh olehnya, kau belum paham anakku’ linangan airmata seorang Ibu bagaikan tangisan seluruh dunia.

Sarman memiliki pengikut yang banyak, dia bos preman di daerah Tegineneng hingga Bandar Lampung. Ilmu kebalnya telah terkenal di seluruh seantaro Tegineneng. Tak ada yang berani berulah padanya. Polisi pun bungkam terhadap perilakunya, bahkan ada pejabat yang mengambil tenaganya dalam urusan politiknya.

”Kumohon berhentilah belajar Al-Quran pada wak Sobri, untuk sementara waktu Nak. Demi kebaikan kita,” mata teduh itu kembali menatap lekat Hafidz.

”Tak ada kebaikan disini Bu, Hafidz tak akan berhenti belajar Al-Quran, walau Hafidz harus mati dan bertemu Bapak disisi Allah. Hafidz tidak akan malu pada Bapak kelak di akhirat.”

”Anakku..., maafkan ketidakberdayaan Ibu Nak. Turuti Ibu nak, lakukanlah demi Ibu. Kumohon Fidz.”

”Maafkan Hafidz Bu, Hafidz tidak bisa memenuhi permintaan Ibu,” Hafidz meninggalkan Ibunya yang masih sesenggukan, keyakinan Hafidz amat kuat.

Bayangan masa lalu itu membuyar, kenangan yang penuh penyesalan. Tapi, bukankah Allah yang Maha Menentukan? Hafidz membuka kembali mushafnya, dia memulai lagi hafalannya, masjid begitu hening setelah shalat ashar. Ustadz Ramadhan sedang pergi bersama isterinya ke tempat saudaranya. Sore ini rencananya mau setor surat Adz-Dzaa riyaat, Insyaallah besok. Hafidz memulai hafalannya dulu dari juz 28 hingga 30, setelah itu dia mulai lagi dari juz I. Kini dia berada di Juz 27, amanah Bapaknya sebentar lagi ditunaikannya.

Dia mulai menghafal surat Ath-thuur, hidupnya diinfakkannya untuk total menghafal Al-Ouran, walau dia juga kuliah di STAIN semester enam, jurusan tarbiyah prodi Bahasa Arab. Itu semakin menguatkan hafalannya. Hari ini dia libur bekerja, dia selalu keliling menawarkan minyak wangi non alkohol di kantor-kantor atau kadang ke sekolah-sekolah di waktu luang di luar kuliah. Pendapatan berjualan minyak wangi baginya mencukupi untuk kuliah dan makan serta tempat tinggalnya. Seorang Ustadz memberinya modal yaitu minyak wangi yang boleh dia jual tanpa membayar dulu.

Matanya terpejam, lelehan airmatanya tak terbendung di rumah Allah itu. Mihrab di hadapannya turut menangis dalam dzikirnya sendiri. Semua elemen yang berada di Masjid menjadi saksi atas perjuangan seorang manusia yang ingin mendekatkan dirinya pada Allah, bagaimanapun getir perjuangan hidupnya. Bibirnya kembali melafadzkan ayat-ayat cinta..., lembut dan tulus.

”Demi bukit, dan kitab yang ditulis dan demi baitul makmur, dan atap yang ditinggikan (langit), dan laut yang di dalam tanahnya ada api, sesungguhnya azab Tuhanmu pasti terjadi, tidak seorangpun yang dapat menolaknya, pada hari ketika langit benar-benar berguncang.” (QS. Ath-Thuur: 1-9).

Tubuh Hafidz bergetar hebat, hatinya perih menyayat. Ayat-ayat Al-Quran benar-benar mengaliri seluruh jiwanya. Kuliahnya di Pendidikan Bahasa Arab benar-benar sangat membantunya mempermudah menghafalkan Al-Quran karena artinya langsung dapat diserapnya. Tanpa sadar wajahnya telah penuh dengan airmata, hingga menetes membasah bajunya. 

Demi Allah yang menciptakan, azab Allah itu benar-benar nyata. Tidak ada yang dapat menolak azabNya kecuali Allah sendiri yang menghilangkannya. Hafidz tak mau berhenti, bibirnya terus melantunkan ayat-ayat Allah Azza wa Jalla.

”Dan gunung benar-benar berjalan. Maka kecelakaan yang besarlah di hari itu bagi orang-orang yang mendustakan, (yaitu) orang-orang yang bermain-main dalam kebatilan, pada hari mereka didorong ke neraka jahannam dengan sekuat-kuatnya. (dan dikatakan kepada mereka), ”Inilah neraka yang dahulu kamu selalu mendustakannya.” maka apakah ini sihir? Ataukah kamu tidak melihat? Masuklah kamu ke dalamnya (rasakanlah panas apinya); maka baik kamu bersabar atau tidak, sama saja bagimu; kamu diberi balasan terhadap apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. Ath Thuur: 10-16).

Goncangan dalam tubuh Hafidz  semakin kuat. Semesta sebagai saksinya. Getaran kuat itu timbul dari kesadaran hatinya yang merasakan akan dekatnya azab Allah Azza wa Jalla. Hatinya tak kuat menerima firman Allah itu, seolah dia sedang berada di tengah-tengah Rasulullah saw dan para Sahabatnya dan seolah dia langsung mendengarkan wahyu itu turun saat pertama kali Rasulullah menyampaikannya. Tubuhnya menggigil seketika, tubuhnya tak kuat, kepalanya pusing. Hafidz pingsan, jatuh dari duduknya. Terkulai ke samping kanan. Tangannya yang lemah tertimpa dan menyangga kepalanya sehingga tak membentur sajadah. Malaikat sibuk mencatatnya.

Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada dalam surga dan kenikmatan, mereka bersuka ria dengan apa yang diberikan kepada mereka oleh Tuhan mereka; dan Tuhan mereka memelihara mereka dari adzab neraka. (QS. Ath Thuur: 17-19).

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!